Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah mengeluarkan peringatan untuk masyarakat mengenai bahaya Gunung Merapi. Peringatan ini disampaikan oleh Kepala BPPTKG, Agus Budi, yang menekankan pentingnya keselamatan pendaki mengingat potensi ancaman erupsi eksplosif yang masih mengintai.
Agus Budi menjelaskan bahwa saat ini aktivitas pendakian di Gunung Merapi tidak dianjurkan. Hal ini demi menjaga keselamatan pendaki dan menghindari risiko yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Kami sangat menyarankan agar warga tidak melakukan pendakian di Gunung Merapi untuk saat ini,” kata Agus Budi dengan tegas, Rabu lalu.
Peringatan Bahaya Erupsi di Gunung Merapi
Agus Budi menegaskan bahwa jika erupsi eksplosif terjadi, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak gunung. Ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur pendakian, sehingga setiap orang yang berada di zona tersebut memiliki risiko tinggi.
Ia juga mengajak masyarakat dan pendaki untuk memahami dinamika aktivitas Merapi saat ini. Dalam fase erupsi efusif, magma memang mulai keluar ke permukaan, tetapi bukan berarti ancaman telah sirna.
Menurutnya, fase erupsi efusif justru memiliki potensi untuk berubah menjadi erupsi eksplosif yang lebih berbahaya. Ini bisa terjadi jika jalur keluarnya magma mengalami sumbatan yang mendadak.
Riwayat Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi
Agus Budi menjelaskan kewaspadaan ini berdasarkan data historis tentang aktivitas vulkanik Merapi. Selama tiga abad terakhir, Gunung Merapi telah menunjukkan lima tipe erupsi berbeda, dengan erupsi eksplosif menjadi yang paling sering terjadi.
Sejak erupsi pada tahun 2010, telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh jenis erupsi freatik. Hal ini menunjukkan bahwa selama potensi ancaman ini masih ada, penutupan akses pendakian di kawasan rawan adalah langkah mitigasi yang harus diambil.
Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) juga mengonfirmasi bahwa jalur pendakian di Gunung Merapi masih ditutup. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap informasi yang viral di media sosial yang mendorong aktivitas pendakian.
Status Aktivitas Gunung Merapi Terkini
Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, menjelaskan bahwa penutupan jalur pendakian telah diterapkan sejak 22 Mei 2018, bertepatan dengan peningkatan status aktivitas gunung dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Pada 5 November 2020, status ini kembali ditingkatkan menjadi Level III (Siaga) yang masih berlaku hingga saat ini.
Heri menambahkan bahwa kegiatan pendakian tidak direkomendasikan kecuali untuk tujuan penyelidikan dan penelitian terkait mitigasi bencana. Aktivitas vulkanik Merapi per 19-25 Juni 2023 menunjukkan tingkat yang masih tinggi dengan potensi guguran lava dan awan panas.
Pada saat ini, potensi bahaya distrukturkan ke dalam beberapa sektor, termasuk jalur Sungai Boyong dan sektor lainnya yang bisa terdampak hingga 7 kilometer dari puncak. Penyelidikan terhadap risiko erupsi terus dilakukan, dan masyarakat diingatkan untuk menjauhi area rawan.
Rekomendasi untuk Masyarakat dan Pendaki
Masyarakat sangat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi, sejalan dengan rekomendasi BPPTKG. Jalur pendakian melalui New Selo sebenarnya berada di dalam kawasan risiko tinggi.
Seluruh titik pada jalur pendakian, dari pintu gerbang hingga puncak, berada jauh di dalam zona paparan material vulkanik dan awan panas. Semua ini menunjukkan betapa berbahayanya aktivitas pendakian saat ini.
Melihat kondisi tersebut, sangat penting bagi setiap orang untuk memperhatikan peringatan yang dikeluarkan. Keselamatan pribadi dan orang lain harus selalu menjadi prioritas utama.



