Pemerintah Aceh sedang menghadapi tantangan besar dalam menangani dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Setelah menghadapi musibah tersebut, banyak upaya dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak dan merawat infrastruktur yang rusak.
Para relawan dari berbagai kalangan, termasuk aparatur sipil negara (ASN) dan non-ASN, telah digerakkan untuk membersihkan fasilitas umum yang terpengaruh bencana. Namun, mereka harus melaksanakan tugas mulia ini tanpa mendapatkan biaya perjalanan dinas dari pemerintah.
Menurut juru bicara Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, kehadiran ribuan relawan ini murni merupakan aksi kemanusiaan. Kegiatan ini menjadi penting untuk menyemarakkan solidaritas di tengah situasi sulit yang dialami masyarakat setempat.
Pentingnya Peran Relawan dalam Menghadapi Bencana
Partisipasi relawan dalam penanganan bencana bukanlah sesuatu yang baru. Selain ASN dan non-ASN, banyak warga yang menunjukkan kepedulian dengan berkontribusi dalam membersihkan kawasan terdampak. Sikap gotong royong ini sangat penting untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
Kegiatan pembersihan tersebut mencakup berbagai fasilitas vital seperti tempat ibadah dan sekolah-sekolah. Melalui aksi ini, relawan diharapkan dapat membantu mengembalikan fungsi sosial yang sempat terganggu akibat bencana.
Gerakan ini tidak hanya soal membersihkan fisik dari puing-puing, tetapi juga memulihkan semangat masyarakat. Dukungan sosial yang diberikan oleh relawan menciptakan rasa persatuan yang kuat di antara warga.
Tak Ada Anggaran Perjalanan Dinas untuk Relawan
Dalam penanganan kali ini, Pemerintah Aceh memutuskan untuk tidak menggunakan anggaran perjalanan dinas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh. Hal ini disampaikan oleh Murthalamuddin saat konferensi pers. Ia menekankan bahwa semua relawan berpartisipasi berdasarkan kesadaran dan semangat membantu.
Arahan ini juga merupakan upaya untuk memastikan bahwa semua anggaran yang ada digunakan semaksimal mungkin untuk pemulihan. Dengan begitu, semua relawan dapat fokus pada tugas mereka tanpa terhalang oleh masalah birokrasi.
Secara keseluruhan, 4.000 relawan telah dikirim untuk melaksanakan bakti sosial di sekolah-sekolah yang terdampak. Ini merupakan fase kedua dari upaya pemulihan yang melibatkan 3.000 relawan sebelumnya.
Statistik dan Dampak Bencana di Sumatra
Sementara itu, data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan dampak serius dari banjir dan longsor di Aceh dan provinsi lainnya. Total korban jiwa hingga saat ini mencapai 1.167 orang, dengan penambahan terbaru dari Aceh Utara.
BNPB juga mencatat jumlah orang hilang masih mencapai 165 orang. Situasi ini menunjukkan bahwa bencana tersebut memberikan dampak yang sangat besar terhadap masyarakat. Penyelesaian situasi ini menjadi prioritas utama untuk menjamin keselamatan warga.
Data juga menunjukkan bahwa jumlah pengungsi mulai berkurang, berkat upaya pembersihan yang intensif. Namun, masih banyak warga yang tinggal di tempat pengungsian karena rumah mereka rusak parah akibat bencana alam ini.




