Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang telah menetapkan status tanggap darurat bencana akibat meluasnya banjir yang merendam 24 kecamatan. Keputusan ini diambil setelah satu pekan dari terjadinya bencana, di mana kepala BPBD, Achmad Taufik, menjelaskan bahwa perubahan status tersebut didasari evaluasi banjir yang mengakibatkan dampak signifikan terhadap masyarakat.
Taufik menambahkan bahwa curah hujan yang tinggi diprediksi akan terus berlanjut, mengakibatkan potensi banjir yang lebih besar. “Ini menjadi alasan jelas untuk segera mengambil langkah antisipatif,” kata Taufik dalam pernyataannya kepada wartawan.
Peningkatan intensitas curah hujan ini membuat BPBD terpaksa memperkuat upaya penanganan bencana. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak, misalnya, menjadi salah satu fokus utama dalam mempercepat pemulihan kondisi.
Tindakan dan Respons Pemerintah Daerah atas Banjir yang Meluas
Dalam menghadapi masalah ini, pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai instansi untuk memastikan penanganan bencana dilakukan dengan efektif. BPBD akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan yang telah mendirikan posko kesehatan di beberapa titik strategis.
Posko kesehatan ini disediakan untuk mengatasi masalah medis yang mungkin timbul akibat banjir. Taufik juga meminta Dinas Pekerjaan Umum untuk memperbaiki drainase yang tersumbat dan melakukan langkah-langkah pencegahan lainnya.
Salah satu langkah penting yang diambil adalah melakukan pemantauan teratur terhadap kondisi cuaca di wilayah tersebut. Dengan adanya laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah berharap dapat memberikan informasi akurat kepada masyarakat, sehingga mereka dapat bersiap menghadapi bencana lebih baik.
Profil Dampak Banjir terhadap Masyarakat yang Terdampak
Dampak banjir sangat dirasakan oleh warga di 24 kecamatan, dengan ratusan rumah terendam bahkan hingga dua meter. Banyak dari mereka yang terpaksa mengungsi, dan beberapa masyarakat sudah mendirikan tenda di lokasi aman.
Warga di Perumahan Taman Cikande, salah satu lokasi yang paling parah terkena dampak, melaporkan bahwa kehidupan sehari-hari mereka terganggu. Banyak aktivitas yang dilakukan sehari-hari harus terhenti, dan bantuan masih minim.
Victor Silaen, Ketua RW setempat, mengungkapkan kekhawatirannya akan kurangnya bantuan dari pemerintah. “Kami telah meminta bantuan, tapi sampai saat ini semua masih ditunggu,” ujarnya penuh harap.
Penyakit dan Kesehatan Warga di Tengah Krisis Banjir
Dengan adanya banjir, muncul pula berbagai masalah kesehatan di antara para pengungsi. Puluhan warga di Perumahan Taman Cikande mulai menunjukkan gejala sakit akibat terpapar air banjir yang kotor dan berbahaya.
Posko kesehatan yang dibentuk telah mulai memberikan layanan kesehatan gratis bagi mereka yang membutuhkan. Petugas medis melaporkan bahwa banyak warga mengeluhkan sakit kepala, gatal-gatal, dan batuk.
Seorang warga, Eka, yang terkena dampak langsung banjir, mengaku merasa sangat lelah dan sakit. “Saya tidak bisa tidur nyenyak, semua barang di rumah saya sudah terendam,” katanya sambil menangis.




