Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga pangan melalui program Gerakan Pangan Murah yang dilaksanakan secara kolaboratif dengan berbagai pihak. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan bahan pokok, tetapi juga membantu masyarakat di tengah isu inflasi yang mengganggu kesejahteraan perekonomian.
Acara ini berlangsung di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng dan menargetkan para pedagang, petani, dan masyarakat di sekitar Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. Upaya kolaborasi ini bukan hanya sekadar aksi sosial, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam pasar pangan lokal.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk menjaga kestabilan harga dan memastikan bahwa bahan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk membeli bahan pangan dengan harga yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan harga pasar yang melambung tinggi.
Program Gerakan Pangan Murah sebagai Solusi Kenaikan Harga Bahan Pokok
Kenaikan harga bahan pangan, khususnya cabai dan beras, menjadi isu utama yang mendorong diadakannya Gerakan Pangan Murah. Misalnya, harga cabai merah sudah mencapai Rp80-90 ribu per kilogram, membuatnya sulit dijangkau oleh banyak masyarakat.
Gubernur Luthfi menekankan pentingnya kolaborasi untuk menjaga inflasi di provinsi ini agar tetap terkendali. “Kerja kolaboratif ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam menjaga kestabilan harga pangan,” ujarnya.
Langkah ini juga mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap dampak negatif kekeringan yang mungkin mempengaruhi produksi pangan. Beragam bantuan disalurkan untuk mendukung produktivitas pertanian, seperti sarana irigasi dan alat pertanian lainnya.
Meningkatkan Produktivitas Pertanian untuk Mengatasi Tantangan Musiman
Menghadapi tantangan perubahan iklim seperti fenomena El Nino, pemerintah menyusun strategi yang melibatkan perubahan pola tanam. Program dari Dinas Pertanian diharapkan dapat menunjang ketersediaan bahan baku penting yang diperlukan oleh masyarakat.
Dalam periode Januari hingga Oktober 2026, produksi padi diperkirakan mencapai 8,4 juta ton, yang setara dengan 4,9 juta ton beras. Produksi cabai dan bawang merah juga terpantau cukup tinggi, dengan masing-masing mencapai 404,91 ribu ton dan 408,76 ribu ton.
“Kami harus berinovasi agar ketahanan pangan dapat terjaga di daerah kami. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Luthfi, menggambarkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan petani.
Respon Masyarakat Terhadap Inisiatif Pangan Murah
Peserta program Gerakan Pangan Murah memberikan feedback positif mengenai dampak dari inisiatif tersebut. Joko, seorang pedagang nasi goreng, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat membantunya dalam menjalankan usaha. Kenaikan harga cabai yang cukup signifikan membuat biaya operasionalnya melonjak.
“Saya menyadari bahwa harga cabai di pasaran bisa mencapai Rp65 ribu, sedangkan di sini saya hanya membayar Rp45 ribu. Ini jelas sangat membantu,” ujarnya menilai keuntungan yang didapat dari program ini.
Begitu pula dengan Dari, seorang pengusaha katering, yang mendapatkan beras dengan harga lebih murah berkat inisiatif ini. “Kenaikan harga bahan pokok seperti ayam dan beras dapat menyebabkan kami harus mengubah harga jual yang bisa berisiko kehilangan pelanggan,” tambahnya.



