Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) mengambil langkah signifikan dengan menutup sementara aktivitas pendakian Gunung Kerinci, yang merupakan puncak tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.805 mdpl. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas vulkanik di gunung tersebut, yang terpantau sejak Minggu (4/1), dengan status saat ini berada di level II (Waspada).
Langkah penutupan ini diambil setelah pihak pengelola menerima informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tentang peningkatan catatan kegempaan yang terjadi. Para pengunjung dan pendaki diimbau untuk sementara tidak mendaki sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Pihak Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I BBTNKS menyatakan bahwa pada hari Selasa, pengelolaan secara resmi menghentikan semua aktivitas pendakian. Masyarakat yang berencana untuk berkunjung dianjurkan untuk menunda rencana mereka demi keselamatan.
Meningkatnya Aktivitas Vulkanik di Gunung Kerinci
Peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Kerinci tercatat memasuki fase yang cukup aktif dengan banyak gempa. Menurut Kepala SPTN Wilayah I, pemantauan menunjukkan 101 kejadian gempa vulkanik dangkal serta beragam jenis gempa lainnya. Data ini dilaporkan untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan.
Gempa-gempa tersebut meliputi 14 kali gempa vulkanik dalam dan 27 kali gempa hembusan, yang semuanya menandakan potensi aktivitas vulkanik yang tidak stabil. Para ahli memperkirakan bahwa tingginya frekuensi gempa ini bisa berpotensi mengarah pada aktivitas erupsi lebih lanjut.
Berdasarkan catatan yang diperoleh, aktivitas kegempaan juga mencatat 21 gempa hybrid dan 1 gempa tektonik jauh. Hal ini mencerminkan adanya dinamika di dalam perut bumi yang perlu diawasi secara serius oleh pihak berwenang.
Peringatan untuk Masyarakat dan Wisatawan
Pihak pengelola menyampaikan peringatan tegas kepada masyarakat dan wisatawan agar tidak mendaki kawah puncak Gunung Kerinci. Larangan ini berlaku dalam radius 3 km dari kawah aktif, di mana sejumlah gejala kegempaan dapat mengindikasikan potensi bahaya yang mendekat.
Dalam konteks keselamatan, penting bagi masyarakat sekitar untuk memahami dan mengikuti imbauan tersebut. Keputusan ini tidak hanya untuk keselamatan individu tetapi juga untuk menghindari masalah yang lebih besar dalam situasi darurat.
Pengunjung yang ingin menikmati keindahan taman nasional disarankan untuk mencari alternatif aktivitas lain yang lebih aman. Dengan mengambil langkah pencegahan, diharapkan risiko dapat diminimalkan dan keselamatan semua pihak terjaga.
Penutupan Jalur Pendakian secara Resmi
Penutupan jalur pendakian berlaku untuk semua rute, termasuk Jalur R.10 Kersik Tuo di Kabupaten Kerinci dan Jalur Camping Ground Bukit Bontak di Solok Selatan. Penutupan ini langsung diberlakukan mulai tanggal 6 Januari 2026 hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
Selama masa penutupan ini, pihak BBTNKS akan terus memonitor aktivitas vulkanik dan mengevaluasi kembali situasi di lapangan. Keputusan untuk membuka kembali jalur pendakian akan didasarkan pada pertimbangan keamanan yang cermat.
Pihak BBTNKS juga menekankan pentingnya kesadaran akan potensi letusan yang bisa terjadi. Ketinggian abu dari letusan dapat mengganggu jalur penerbangan di sekitar wilayah tersebut, sehingga masyarakat diminta untuk menghindari kawasan tersebut.




