Jawa Tengah dikenal sebagai “kandang banteng”, sebuah sebutan yang mencerminkan dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam pemilu selama beberapa tahun terakhir. Sebagai sebuah partai politik, PDIP telah meraih sejumlah kemenangan yang membuatnya menjadi kekuatan dominan di kawasan ini.
Sejak Pemiliu Gubernur 2008, dimana PDIP berhasil memenangkan kursi kepemimpinan dengan Bibit Waluyo dan Rustiningsih, partai ini menunjukkan konsistensinya. Dengan meraih suara lebih dari 6 juta, penguasaan PDIP di Jawa Tengah semakin terjamin, yang bahkan terus berlanjut dalam pemilu-pemilu berikutnya.
Pada Pemilu Gubernur 2013, keberhasilan kembali diraih oleh PDIP, saat Ganjar Pranowo berpasangan dengan Heru Sudjatmoko mengalahkan lawan-lawannya. Hasil mengejutkan ini menegaskan posisi PDIP yang semakin kuat dalam konteks politik lokal, dengan perolehan suara mencapai 48,82 persen.
Suksesi Pemilihan Umum di Jawa Tengah Sebagai Cermin Keberhasilan PDIP
Dominasi PDIP di Jawa Tengah kian terlihat jelas dalam tiga pemilihan gubernur berturut-turut. Pada Pemilu 2018, Ganjar dan Taj Yasin meraih suara terbanyak dengan mencapai lebih dari 10 juta suara, mencerminkan kekuatan basis para pendukung setia PDIP. Hal ini menunjukkan bagaimana pengaruh PDIP semakin mengakar di masyarakat lokal.
Namun, dalam Pilkada 2024, hal mengejutkan terjadi ketika Andika Perkasa dan Hendar Prihadi, yang maju dari PDIP, mengalami kekalahan. Dengan perolehan suara yang hanya mencapai 40,86 persen, hasil ini menjadi sinyal bahwa tantangan bagi PDIP di Jawa Tengah mulai muncul.
Walaupun kehilangan kursi gubernur, PDIP masih berhasil mempertahankan kekuatannya di level legislatif. Dalam pemilu legislatif tahun 2014 dan 2019, PDIP berhasil menjadi pemenang dengan perolehan suara yang cukup signifikan, baik secara nasional maupun di tingkat provinsi Jawa Tengah.
PDIP Masih Menjadi Pilihan Utama dalam Pemilu Legislatif
Pada pemilu 2014, PDIP memperoleh 23 juta suara secara nasional, yang setara dengan 18,95 persen dari total suara, dan meraih 109 kursi di DPR RI. Di tingkat lokal, hasil tersebut menunjukkan kekuatan ekstra, dengan perolehan sekitar 4,295 juta suara di Jawa Tengah. Ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap PDIP tidak hanya terbatas pada pemilihan eksekutif tetapi juga di level legislatif.
Selanjutnya, dalam pemilu 2019, PDIP terus memperkuat posisinya. Dengan raihan 27 juta suara, setara dengan 19,33 persen, partai ini berhasil mendapatkan 128 kursi, termasuk 26 di daerah pemilihan Jawa Tengah. Pencapaian ini memperkuat narasi tentang betapa solidnya dukungan untuk PDIP.
Ketika mempersiapkan diri menghadapi pemilu 2024, PDIP tetap optimis untuk mempertahankan dominasinya. Dengan alokasi 25 juta suara dan 110 kursi DPR RI, dukungan di tingkat provinsi Jawa Tengah tetap stabil, dengan sekitar 5,2 juta suara yang membuat PDIP unggul dalam daerah tersebut.
Tantangan dari Munculnya Partai Baru di Jawa Tengah
Kemunculan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai salah satu tantangan baru bagi PDIP semakin tak bisa diabaikan. Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, menyebut pemilu mendatang sebagai kesempatan untuk meraih lebih banyak kursi, bahkan menggambarkan Jawa Tengah sebagai ‘kandang gajah’. Hal ini menunjukkan ambisi PSI untuk menggeser dominasi PDIP di daerah tersebut.
PSI, yang telah menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan meraih 12 kursi di DPRD, semakin berani menantang kekuatan PDIP. Dalam pemilu mendatang, mereka menargetkan hingga 17 kursi DPRD Provinsi, menunjukkan komitmen untuk lebih berperan dalam politik lokal.
Kemudian, merespons tantangan ini, Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP, menegaskan bahwa partainya lebih fokus kepada konsolidasi dan perbaikan internal. Dia menekankan bahwa rakyatlah yang akan menentukan masa depan politik, dan PDIP bersiap untuk siap menghadapi semua tantangan yang ada.




