Polda Metro Jaya baru-baru ini mengungkap kasus tragis yang melibatkan kematian Alex Iskandar, ayah tiri dari seorang bocah berusia enam tahun, Alvaro Kiano Nugroho. Tak hanya menggegerkan masyarakat, kasus ini juga menggambarkan sisi gelap dari hubungan keluarga yang dapat berujung pada tindakan keji yang tak terbayangkan sebelumnya.
Pasca delapan bulan hilangnya Alvaro, pihak kepolisian berhasil menangkap pelaku dalam kasus ini di sebuah daerah di Tangerang. Penangkapan ini menjadi langkah awal penyidikan yang lebih mendalam mengenai motif di balik tindakan keji yang dilakukan oleh Alex Iskandar.
Penjelasan yang disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menunjukkan betapa rumitnya proses penyidikan yang harus dilakukan. Pemeriksaan intensif terhadap pelaku dilakukan dengan hati-hati demi mengungkap keseluruhan kronologi peristiwa yang terjadi.
Kronologi Kasus yang Menghentak Publik
Awal mula kasus ini terungkap ketika pihak kepolisian melakukan pencarian terhadap Alvaro yang dilaporkan hilang secara misterius. Penangkapan pelaku dilakukan pada tanggal 21 November, dan dalam waktu singkat, pihak berwenang mulai mengurai fakta-fakta yang ada.
Pemeriksaan terus berlanjut hingga tiga hari setelah penangkapan, di mana Alex izin untuk pergi ke toilet dengan alasan tidak nyaman. Namun, situasi ini akhirnya berujung pada penemuan yang mengerikan ketika pelaku ditemukan dalam keadaan sudah menghilangkan nyawanya sendiri.
Keberanian pihak kepolisian dalam menggali lebih jauh apa yang terjadi pada Alvaro menjadi sorotan publik. Mereka berusaha keras untuk menemukan jasad bocah malang tersebut di lokasi-lokasi yang dicurigai menjadi tempat pembuangan.
Motif di Balik Tindakan Keji Pelaku
Penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian tidak hanya fokus pada tindakan kriminal yang dilakukan tetapi juga pada latar belakang psikologis pelaku. Ditemukan adanya indikasi bahwa Alex melakukan hal tersebut sebagai bentuk balas dendam terhadap istrinya yang diduga berselingkuh.
Motif ini menjadi dasar kuat mengapa pelaku tega menculik anak tirinya. Keresahan yang menghimpit dirinya membuat Alex berpikir bahwa tindakan keji adalah satu-satunya jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.
Dalam keterangan yang disampaikan, Budi mengungkapkan bagaimana tindakan menculik dilakukan di sebuah masjid di Pesanggrahan pada Maret 2025. Saat itu, Alvaro menangis dan tidak berdaya, hingga membuat pelaku melakukan hal tragis yang berujung pada kematian bocah tersebut.
Proses Penanganan dan Kesedihan Keluarga
Bukan hanya pelaku yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, tetapi juga dampak yang ditinggalkan kepada keluarga. Setelah keberadaan jasad Alvaro ditemukan, keluarga merasakan duka mendalam atas kehilangan yang tidak terbayangkan ini.
Proses penanganan yang dilakukan oleh pihak kepolisian menunjukkan bahwa mereka berkomitmen untuk memberikan keadilan bagi korban. Penggalian informasi lebih banyak dilakukan demi menghimpun bukti-bukti yang kuat agar pelaku dapat dihukum setimpal.
Setelah jasad ditemukan di Jembatan Cilalay, masyarakat semakin terkejut dengan cerita di balik kejadian ini. Kasus yang mengaitkan antara balas dendam dan tindakan kriminal semacam ini menyisakan banyak pertanyaan tentang betapa pentingnya menjaga hubungan antaranggota keluarga agar tidak terjerumus pada jalan yang keliru.




