Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan respon terkait hasil rilis Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2025. Skor Indonesia mengalami penurunan menjadi 34, setara dengan Nepal, yang memicu perhatian masyarakat luas. Ini menunjukkan bahwa masalah korupsi masih menjadi tantangan serius yang harus dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat.
Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan bahwa skor IPK mencerminkan tingkat kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan. Dengan demikian, hasil ini seharusnya menjadi pendorong untuk introspeksi mendalam dan perbaikan dalam upaya pemberantasan korupsi.
Budi menambahkan bahwa pengukuran ini bukan hanya angka statistik, tetapi merupakan indikator nyata dari komitmen nasional dalam memerangi praktik korupsi. Dengan kata lain, CPI berfungsi sebagai alat evaluasi untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan di masa depan.
Signifikansi Indeks Persepsi Korupsi dalam Masyarakat
Indeks Persepsi Korupsi adalah alat penting yang digunakan untuk mengukur tingkat korupsi di sektor publik suatu negara. Semakin rendah skor yang diperoleh, semakin besar masalah yang dihadapi dalam hal integritas dan transparansi. Oleh karena itu, penurunan skor ini menjadi sinyal kuat bahwa keadaan perlu ditangani secara serius.
Budi Prasetyo menekankan bahwa CPI tidak hanya berfungsi sebagai angka semata, tetapi juga sebagai panggilan untuk semua pihak untuk terlibat dalam upaya pencegahan korupsi. Hal ini mendorong keinginan untuk memperkuat integritas di dalam lembaga pemerintah dan sektor lainnya.
Masih terdapat tantangan besar di lapangan, terutama terkait dengan perilaku korupsi yang terjadi secara masif. Hal tersebut menunjukkan bahwa perjuangan melawan korupsi bukanlah hal yang sepele, melainkan memerlukan perhatian dan tindakan dari seluruh elemen masyarakat.
Upaya KPK dalam Membangun Ekosistem Politik yang Berintegritas
KPK telah menetapkan tiga pilar utama dalam upaya menciptakan ekosistem politik yang berintegritas. Pilar-pilar tersebut adalah pendidikan, pencegahan, dan penindakan terpadu. Melalui pendidikan, KPK berharap untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya integritas di kalangan masyarakat.
Pencegahan juga menjadi fokus, dengan membangun sistem yang dapat mendeteksi dan mencegah praktik korupsi sebelum terjadi. Hasil yang positif dari pencegahan ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Di sisi lain, penindakan menjadi langkah terakhir namun sangat krusial ketika korupsi ditemukan. Proses penindakan yang transparan dan adil juga dianggap penting untuk membangun confiance masyarakat terhadap pemerintah dan penegakan hukum.
Peran Stakeholder dalam Meningkatkan Skor IPK Indonesia
Pihak KPK tidak bisa bekerja sendiri dalam meningkatkan skor IPK. Semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, lembaga hukum, hingga masyarakat sipil, harus bersinergi dan bersatu dalam usaha memberantas korupsi. Setiap individu memiliki peran yang signifikan dalam memperbaiki keadaan.
Masyarakat sipil memiliki tanggung jawab untuk mengawasi tindakan pemerintah dan melaporkan setiap penyimpangan yang terjadi. Keterlibatan aktif masyarakat dalam hukum dan ketidakpuasan terhadap praktik korupsi akan menjadi kunci untuk mendorong perbaikan.
Selain itu, transparansi juga menjadi faktor penting. Akses masyarakat terhadap informasi yang berkaitan dengan pengelolaan anggaran publik dan kebijakan pemerintah dapat memperkuat kewaspadaan masyarakat terhadap potensi tindak pidana korupsi.
Langkah-Langkah Strategis ke Depan dalam Melawan Korupsi
Untuk meningkatkan skor IPK, diperlukan langkah-langkah strategis yang konkret dari semua pihak. KPK berkomitmen untuk memperbaiki sistem pengawasan dan tata kelola yang ada saat ini. Hal ini penting agar kebijakan yang diambil dapat jadi lebih efektif dan efisien.
Kerjasama dengan kelompok penegak hukum serta lembaga internasional akan menjadi bagian dari strategi untuk menghadapi masalah korupsi. Pengalaman dan metode yang diterapkan di negara lain dapat menjadi pembelajaran berharga bagi Indonesia.
Penting juga untuk menjunjung tinggi perlindungan hukum bagi whistleblower, yang berani melaporkan praktik-praktik korupsi. Tanpa perlindungan yang memadai, masyarakat akan enggan untuk melaporkan kejanggalan yang mereka saksikan.
Dengan melaksanakan langkah-langkah ini, KPK berharap bisa menumbuhkan kepercayaan publik kepada pemerintah sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan korupsi. Sebab, tantangan melawan korupsi adalah tanggung jawab kolektif yang harus dihadapi bersama.
Melalui komitmen bersama antara KPK, pemerintah, dan masyarakat, harapannya Indonesia dapat mencapai peringkat yang lebih baik di Indeks Persepsi Korupsi di masa mendatang. Upaya ini bukan hanya untuk mengejar skor, tetapi demi mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan, dan bermartabat.




