Sebanyak 98 tiang monorel yang mangkrak di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, kini akan dibongkar. Pembongkaran ini menjadi langkah penting untuk menyelesaikan masalah yang telah berlangsung lama yang berkaitan dengan proyek yang tidak terwujud sejak tahun 2004.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, merencanakan untuk mengundang mantan Gubernur, Sutiyoso, untuk hadir dalam acara pembongkaran yang akan dimulai pada Rabu mendatang. Langkah ini diambil untuk memberikan kesempatan bagi Sutiyoso menyaksikan langsung proses yang selama ini menjadi beban psikologis baginya.
Pramono menjelaskan bahwa dirinya berharap tindakan ini dapat membantu Sutiyoso merasa lebih tenang. Karena proyek monorel ini, yang dimulai di masa kepemimpinannya, telah menjadi sorotan publik dan persoalan yang belum terpecahkan selama bertahun-tahun.
Pembongkaran Tiang Monorel: Langkah Awal Perubahan Infrastruktur Jakarta
Monorel yang direncanakan sejak 2004 ini, pada awalnya diharapkan menjadi solusi transportasi massal yang efisien. Namun, proyek ini terhambat oleh masalah pendanaan dan perdebatan terkait pengelolaannya, yang menyebabkan tiang-tiang yang sudah dibangun menjadi tidak berguna.
Pramono Anung dalam sebuah acara ziarah menyatakan, “Minggu depan ini monorel yang sudah dibangun dari tahun 2004 kita bongkar.” Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperbaiki tata kelola transportasi di Jakarta.
Sejak awal, proyek monorel ini menjadi momok bagi banyak pihak, termasuk Sutiyoso, yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur. Penghentian proyek oleh pemimpin berikutnya, Fauzi Bowo, semakin menambah kesulitan untuk merealisasikan ide transportasi ini.
Sejarah Monorel Jakarta: Dari Harapan hingga Kekecewaan
Pembangunan tiang monorel pertama dimulai pada tahun 2004 dan diresmikan oleh Presiden ketika itu, Megawati Soekarnoputri. Namun, harapan untuk memiliki sistem transportasi modern dengan cepat sirna ketika PT Jakarta Monorail, pengembang proyek ini, mengalami kesulitan dalam membiayai lanjutannya.
Proyek ini seakan menjadi simbol yang gagal, dengan nilai investasi mencapai 450 juta dolar AS. Tiang-tiang yang berdiri hanya menjadi kenangan perencanaan yang ambisius tanpa realisasi.
Pasca penghentian proyek, terdapat perselisihan antara pemerintah dan pengembang mengenai biaya yang dikeluarkan. PT Jakarta Monorail meminta ganti rugi yang besar, tetapi pemerintah lebih memilih untuk mengikuti rekomendasi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
Anggaran Pembongkaran dan Upaya Penataan Kembali Kawasan
Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan anggaran sekitar 100 miliar rupiah untuk pembongkaran tiang monorel dan penataan kawasan di sekitar Jalan HR Rasuna Said. Pramono menegaskan bahwa anggaran tersebut akan digunakan untuk lebih dari sekadar pembongkaran tiang.
Ia menjelaskan bahwa dana tersebut juga akan mencakup penataan jalan, perbaikan trotoar, dan peningkatan infrastruktur lainnya. “Biaya keseluruhan untuk memperbaiki jalan Rasuna Said adalah 100 miliar,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Perhubungan DKI Jakarta merencanakan agar pembongkaran dilakukan pada malam hari. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap arus lalu lintas, terutama saat jam pulang kerja.
“Pembongkaran akan dilakukan pada malam hari untuk menghindari kemacetan,” ungkap Syafrin dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Pengaturan lalu lintas juga akan dilakukan agar arus tetap lancar tanpa penutupan jalan yang berarti.
Syafrin memastikan bahwa skema pengaturan lalu lintas telah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian agar tidak terjadi hambatan selama proses pembongkaran berlangsung. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak perlu khawatir tentang perjalanan mereka.




