Kota Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, sering kali menghadapi tantangan besar dari cuaca ekstrem yang berdampak pada kehidupan sehari-hari warganya. Hal ini terbukti pada banjir yang kembali melanda berbagai wilayah saat curah hujan tinggi mengguyur, pada Minggu malam (18/1). Cuaca yang tak terduga ini menuntut respons cepat dari pemerintah dan masyarakat.
Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta, tercatat 37 RT dan 12 ruas jalan di berbagai lokasi masih terendam banjir. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 10 hingga 80 cm, mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengancam keselamatan warga.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD, Mohamad Yohan, merinci daerah yang terdampak. Khususnya, Jakarta Barat dan Jakarta Timur menjadi sorotan karena tingginya angka RT yang terendam. Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih dalam menangani masalah banjir yang sudah menjadi langganan kota ini.
Penanganan Banjir di Jakarta: Tantangan dan Solusi yang Ditemukan
Menurut Yohan, daerah Jakarta Barat mencatat ketinggian air terbaik, di mana delapan RT di Kelurahan Kedaung Kali Angke terendam antara 20 hingga 50 cm. Sementara itu, kelurahan-kelurahan lain dalam satu wilayah juga mengalami dampak yang cukup parah, dengan tinggi air terendah tetap di kisaran 10 cm. Ini menunjukkan tidak meratanya dampak banjir di setiap lokasi.
Di sisi lain, Jakarta Timur juga tak lepas dari masalah serupa. Sebanyak dua RT di Kelurahan Rawa Terate harus menghadapi ketinggian air yang mencapai 65 cm, sedangkan di Kelurahan Cawang terlihat lima RT dengan ketinggian air mencapai 80 cm. Angka ini sangat memprihatinkan dan menciptakan kebutuhan mendesak akan respons pemerintah antara kebutuhan dasar dan bantuan darurat.
Penanganan banjir menjadi lebih kompleks dengan adanya pengungsi yang harus dievakuasi untuk keselamatan mereka. Di Jakarta Barat, tercatat 12 kepala keluarga atau sekitar 29 jiwa harus mengungsi karena situasi yang mengkhawatirkan. Sedangkan di Jakarta Timur, angka pengungsi meningkat secara signifikan, terutama di Kelurahan Rawa Terate dengan 35 KK atau 105 jiwa yang menjadi korban banjir.
Pentingnya Koordinasi Antara Dinas Terkait untuk Penanganan Banjir
BPBD DKI Jakarta bekerja keras untuk memonitor situasi dan mengoordinasikan berbagai unsur terkait dalam penanganan banjir ini. Keberadaan Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, dan Dinas Pemadam Kebakaran sangat krusial dalam proses penyedotan genangan yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Gerakan cepat ini penting agar masalah banjir tidak berlarut-larut dan menjadi lebih parah, mengingat curah hujan dapat bertambah. Dalam banyak kasus, genangan yang tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar bagi infrastruktur kota dan mempengaruhi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
Pemerintah juga berupaya untuk memastikan agar tali-tali air berfungsi dengan baik agar genangan tidak terus menerus terjadi. Menyediakan makanan dan kebutuhan dasar bagi penyintas pun menjadi prioritas mereka dalam menghadapi keadaan darurat seperti ini.
Peran Masyarakat dalam Menghadapi Banjir Jakarta
Selain upaya dari pemerintah, keterlibatan masyarakat juga sangat penting. Warga diminta untuk tetap waspada dan memahami potensi genangan yang mungkin timbul di lingkungan mereka. Edukasi masyarakat mengenai penanganan bencana juga menjadi langkah antisipatif yang sangat diperlukan.
Sekalipun pengetahuan akan banjir tidak mencegah terjadinya bencana, pemahaman akan risiko dan cara-cara merespons dapat meminimalkan dampak yang terjadi. Pemerintah mengimbau agar masyarakat segera menghubungi nomor darurat ketika situasi darurat terjadi, seperti yang disampaikan Yohan.
Peran aktif masyarakat dalam mendukung penanganan bencana juga penting. Menjalin komunikasi yang baik antar tetangga dapat membantu dalam upaya penyelamatan saat banjir terjadi dan meningkatkan solidaritas sosial di tengah kesulitan.




