Sejarawan dan anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana, menyoroti dampak kolonialisme yang masih terasa di masyarakat Indonesia saat ini. Ia menjelaskan bahwa warisan mental feodalisme yang ditinggalkan oleh kolonialisme menjadi alat kontrol penguasa terhadap rakyat, dan fenomena ini terus berlanjut di era sekarang.
Boni dalam diskusi yang digelar di Amsterdam, Belanda, berpendapat bahwa kolonialisme Belanda, melalui praktik Kongsi Dagang VOC, telah membentuk hubungan patron-klien antara elite dan rakyat. Hal ini menciptakan hierarki yang berlanjut bahkan setelah era kolonial berakhir.
Dia menyampaikan contoh nyata mengenai Soewardi Suryaningrat, atau Ki Hadjar Dewantara, yang diasingkan karena kritiknya terhadap pemerintah kolonial. Sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa kebebasan berbicara pada era itu merupakan sesuatu yang hampir tidak mungkin bagi rakyat biasa.
Pentingnya Memahami Sejarah Kolonialisme dengan Benar
Bonnie menyatakan bahwa meskipun masa kolonial telah berakhir, pikiran dan praktik kolonialisme masih terintegrasi dalam pola pikir masyarakat. Sebagai contoh, mentalitas diskriminasi dan eksploitasi tetap ada dalam interaksi sosial di berbagai tingkatan.
Sebab itu, ia mengajak semua pihak, terutama pemerintah Belanda, untuk melakukan pelurusan sejarah, khususnya mengenai periode trauma antara tahun 1945 hingga 1949. Pengakuan terhadap fakta sejarah adalah langkah penting untuk menciptakan hubungan yang lebih baik di masa depan.
Dalam penjelasannya, Bonnie menekankan bahwa pendidikan sejarah harus mampu membebaskan masyarakat dari belenggu trauma dan kekerasan masa lalu. Pengetahuan yang bebas dari bias sejarah dapat membantu meredakan ketegangan sosial.
Kritik Terhadap Perspektif Sejarah Belanda
Banyak pendapat di Belanda yang menggambarkan era VOC sebagai masa kejayaan. Namun, Bonnie berargumen bahwa persepsi ini harus dikritisi. Di balik kisah kejayaan tersebut, banyak kekerasan dan eksploitasi yang dilakukan terhadap rakyat dan sumber daya alam di koloni.
Ia juga mencatat bahwa akademisi dan masyarakat umum di Belanda perlu memahami sisi kelam sejarah kolonialisme mereka. Pengetahuan ini sangat penting untuk menghargai martabat dan hak-hak manusia yang telah terabaikan.
Kritik yang disampaikannya tak hanya menyoroti tindakan kolonial di masa lalu, tetapi juga bagaimana hal itu membentuk dinamika sosial dan politik saat ini. Perhatian yang lebih besar terhadap sejarah kolonialisme, menurutnya, menjadi penting untuk memperbaiki hubungan antara dua negara.
Kontribusi Pendidikan Sejarah dalam Menghadapi Ketidakadilan
Edukasi sejarah yang lebih baik akan membantu masyarakat untuk memahami pola diskriminatif yang masih ada, serta pentingnya kesetaraan bagi semua. Bonnie percaya, ketika masyarakat memiliki pemahaman yang baik tentang latar belakang sejarah mereka, mereka akan lebih mampu menghargai kemanusiaan satu sama lain.
Bagi Bonnie, pendidikan tidak hanya sekedar transfer pengetahuan, tetapi juga alat untuk transformasi sosial. Pendidikan yang mencerahkan dapat menjadi jalan menuju keputusan yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan memutus rantai kekerasan yang terjadi di masyarakat, pendidikan dapat berperan sebagai jembatan untuk membangun dialog dan saling menghargai antarindividu. Inilah yang diharapkan menjadi landasan bagi generasi selanjutnya.



