Nenek Elina Widjajanti, seorang warga Surabaya, mengalami peristiwa yang sangat merisaukan ketika sekelompok orang memaksanya keluar dari rumah yang telah ditinggalinya selama lebih dari satu dekade. Pengusiran ini diduga dilakukan oleh pihak-pihak yang mengklaim memiliki hak atas rumah tersebut, dan kini Elina berada di tengah proses hukum untuk membela haknya.
Setelah insiden pengusiran yang mendalam, Elina telah menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur. Selama pemeriksaan, Elina menceritakan pengalaman traumatisnya tersebut kepada penyidik mengenai bagaimana ia diusir dari rumah tanpa pemberitahuan yang cukup serta tantangan yang dihadapinya.
Pengusiran yang Menghancurkan Hati dan Kehidupan Nenek Elina
Peristiwa pengusiran tersebut terjadi pada awal bulan Agustus 2025. Saat itu, Elina mendapati dirinya dikelilingi puluhan orang yang memaksa dirinya keluar dari rumah. Dengan tak berdaya, ia menolak untuk meninggalkan tempat tinggalnya layaknya sebuah pembelaan akan haknya yang sah.
Di dalam situasi yang tegang itu, Elina mempertanyakan asal-usul surat kepemilikan yang diklaim oleh seorang pria bernama Samuel. Pria tersebut tidak mampu menunjukkan bukti kepemilikan saat dipertanyakan oleh Elina. Situasi semakin memburuk ketika para pengusir tidak mengizinkan Elina untuk mengambil harta bendanya.
Elina menegaskan bahwa ia dan kakaknya, Elisa, sudah menempati rumah tersebut sejak tahun 2011. Namun, situasi berubah ketika Elisa meninggal dunia di tahun 2017, dan status kepemilikan rumah kini dipertanyakan oleh pihak-pihak yang mengklaim telah membeli rumah tersebut dari Samuel.
Proses yang menyakitkan tidak hanya terhenti di pengusiran. Setelah insiden tersebut, Elina harus mengikuti proses hukum yang melibatkan beberapa orang dalam pemeriksaan dan penyidikan di Polda Jawa Timur.
Kuasa hukum Elina, Wellem Mintarja, mengungkapkan bahwa ada beberapa orang yang diperiksa, termasuk Elina sendiri. Wellem berusaha mencari keadilan bagi kliennya dengan tujuan untuk memastikan hak Elina diakui dan dilindungi.
Dampak Emosional dan Mental Akibat Pengusiran
Selama proses pemeriksaan, Elina tidak hanya ditanyai tentang pengusiran, tetapi juga mengenai dampak emosional yang dialaminya. Perasaan kehilangan, ketidakpastian, dan trauma akibat pengalaman tersebut menjadi beban yang harus ditanggungnya. Kehilangan tempat tinggal bukan hanya kehilangan fisik, tetapi juga kehilangan identitas dan kenangan.
Perjuangan Elina menjadi saksi betapa sulitnya mempertahankan hak atas sebuah properti ketika dihadapkan pada tekanan kelompok tertentu. Dalam wawancara, ia mengungkapkan kekhawatirannya akan keselamatan dirinya dan bagaimana pengusiran ini mengubah hidupnya secara drastis.
Banyak orang tidak menyadari dampak psikologis yang dapat ditimbulkan oleh konflik semacam ini. Elina mewakili banyak individu yang berjuang untuk mempertahankan hak mereka atas rumah dan tempat tinggal, sementara sistem hukum sering kali berjalan lambat dan berbelit-belit.
Melalui kasus ini, harapannya adalah agar masyarakat lebih peka terhadap situasi rentan semacam ini. Sebuah rumah seharusnya menjadi tempat perlindungan dan kenyamanan, bukan sumber ketakutan dan ancaman.
Elina berharap keadilan memihak kepadanya dan bahwa kasus ini menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam berurusan dengan konflik hukum terkait kepemilikan properti.
Proses Hukum yang Panjang dan Berbelit-belit
Elina kini terjebak dalam proses hukum yang berlarut-larut. Setiap anggota keluarga yang terlibat dalam kasus ini diharapkan dapat memberikan kesaksian yang kuat untuk mendukung klaim Elina atas rumah yang telah ditinggalinya. Keberanian untuk berbicara di depan hukum menjadi langkah penting untuk mengungkap kebenaran.
Sementara itu, Samuel, yang mengklaim sebagai pemilik baru, terus tampak melawan. Ia tidak hanya menolak untuk menunjukkan bukti kepemilikan tetapi juga menunjukkan ketidakpedulian terhadap proses hukum yang sedang berlangsung.
Kuasa hukum Elina menyayangkan minimnya perhatian yang diberikan kepada kasus ini. Banyak kasus serupa yang terjadi di masyarakat, dan sering kali mereka tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Oleh karena itu, upaya untuk memperjuangkan hak atas tanah dan properti harus ditingkatkan.
Elina bersikeras akan terus berjuang hingga haknya diakui. Dengan dukungan dari keluarga dan tim hukumnya, ia bertekad untuk mencari keadilan meskipun prosesnya terlihat sulit dan panjang.
Keadilan sering kali harus diperjuangkan dengan susah payah, dan Elina menjadi contoh nyata dari semangat tersebut. Kisahnya merupakan refleksi dari tantangan yang dihadapi banyak orang dalam mempertahankan hak-hak mereka di tengah konflik hukum yang rumit.




