Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, mengumumkan bahwa tim SAR gabungan akan terus melakukan pencarian terhadap 59 orang yang masih hilang akibat bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut. Meskipun masa tanggap darurat resmi berakhir pada 31 Desember, Bobby menegaskan bahwa pencarian ini akan tetap dilakukan sebagai prioritas utama.
Dalam penjelasannya, Bobby menyatakan bahwa upaya penyelamatan jiwa dan pencarian korban menjadi fokus penggunaan anggaran selama masa tanggap darurat. Ia menekankan pentingnya memastikan keselamatan warga yang terdampak, serta pemenuhan kebutuhan logistik selama periode sulit ini.
“Di masa tanggap darurat ini, semua anggaran diarahkan untuk penanganan darurat dan penyelamatan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa saat ini perhatian juga harus dialihkan untuk pemulihan pascabencana yang lebih luas.
Proses Pencarian dan Pemulihan Korban Banjir dan Longsor
Setelah berakhirnya status tanggap darurat, Bobby menyampaikan bahwa pemerintah daerah mulai memasuki fase transisi pemulihan pascabencana. Pencarian korban yang hilang tetap menjadi prioritas, sementara pemulihan infrastruktur dan ekonomi masyarakat juga mulai dibahas. “Kami akan terus melakukan pencarian dan pemulihan secara bersamaan,” ujarnya.
Bobby menjelaskan bahwa di fase transisi ini, pemerintah dimungkinkan untuk mulai memasukkan dana untuk membantu pemulihan rumah warga maupun sektor pertanian yang rusak akibat bencana. “Kami sudah melakukan intervensi di beberapa lokasi untuk memastikan pemulihan berjalan efektif,” tuturnya.
Pemerintah setempat bertekad untuk tidak hanya berhenti di bantuan darurat. Upaya untuk memperbaiki rumah-rumah yang rusak dan memulihkan ekonomi warga harus dilakukan secara terpadu dan terencana.
Rincian Dampak Bencana Banjir dan Longsor di Sumut
Bencana yang terjadi sejak 24 hingga 26 November 2025 ini telah memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat. Data dari Pusdalops PB BPBD Provinsi Sumut menyebutkan bahwa terdapat 366 orang yang kehilangan nyawa dan 60 orang lagi masih dalam pencarian. Jumlah terdampak bencana pun mencapai lebih dari 1,8 juta orang.
Selain itu, 14.430 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Korban meninggal terbesar berasal dari Kabupaten Tapanuli Tengah, diikuti oleh Tapanuli Selatan, Sibolga, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan, masing-masing akan mendapatkan perhatian khusus dalam pemulihan.
Mengetahui jumlah korban yang tinggi dan besarannya, pemerintah berusaha keras untuk memberikan perhatian kepada semua yang terdampak. “Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa semua korban mendapatkan hak mereka dan tidak ada yang terlupakan,” tegas Bobby.
Kendala dan Tantangan dalam Penanganan Pascabencana
Banyak kendala yang dihadapi oleh tim dalam menangani bencana ini. Selain tantangan cuaca yang tidak menentu, akses menuju lokasi-lokasi terdampak juga menjadi masalah utama. “Kami menghadapi kendala dalam hal infrastruktur yang rusak, sehingga sulit untuk menjangkau beberapa daerah terpencil,” tuturnya.
Namun, Bobby menekankan bahwa tim SAR dan pemerintah daerah akan terus bekerja keras untuk mengatasi semua tantangan. “Kami tidak akan mundur, meskipun banyak yang harus dihadapi,” ujarnya dengan tegas. Rencana pemulihan jangka panjang sudah mulai disusun, termasuk rencana pembangunan infrastruktur yang lebih baik.
Bobby berharap bahwa kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dapat mempercepat proses pemulihan. “Dengan dukungan semua pihak, kami yakin bisa melewati masa sulit ini bersama-sama,” katanya.




