Raja Keraton Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi, akan dimakamkan di Pajimatan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu, 5 November. Pemakaman ini menjadi momen penting bagi keluarga kerajaan dan masyarakat, sebagai penghormatan terakhir terhadap sosok yang telah membawa pengaruh signifikan dalam sejarah.
Dalam proses pemakaman ini, pihak keluarga telah mengatur segala sesuatunya dengan matang. GKR Koes Moertiyah Wandansari, adik dari Pakubuwono XIII, menyatakan bahwa upacara akan dimulai pada pukul 08.00 WIB, menandai hari yang penuh haru bagi seluruh anggota keluarga.
Kompleks Makam Imogiri adalah lokasi yang penuh makna, tercatat sebagai tempat peristirahatan terakhir para raja dan anggota Dinasti Mataram Islam yang bersejarah. Kehadiran makam ini menambah nilai spiritual dan kultural bagi masyarakat yang mengunjunginya.
Makam Imogiri dan Relevansinya dalam Sejarah
Komplek pemakaman Imogiri terdiri dari tiga kelompok besar. Kelompok pertama mencakup makam Raja-Raja Mataram Islam, kelompok kedua adalah makam para raja Kasultanan Yogyakarta, dan kelompok ketiga adalah makam Raja-Raja Kasunanan Surakarta. Pembagian ini menunjukkan pentingnya masing-masing kelompok dalam sejarah Indonesia.
K lokasi Imogiri tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi simbol kedamaian dan pengabdian. Dalam setiap pemakaman, masyarakat merasakan nuansa sakral yang mendalam. Hal ini menjadikan Imogiri tempat yang tidak hanya dihormati oleh keluarga kerajaan, tetapi juga oleh rakyat.
Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Joyo Adilogo, Bupati Pajimatan, menegaskan bahwa meskipun ada prosesi pemakaman, kawasan kompleks makam tetap dibuka untuk pengunjung. Ini menunjukkan komitmen untuk menjaga keterhubungan antara masyarakat dan sejarah.
Proses Pemakaman yang Teratur dan Penuh Makna
Saat pemakaman berlangsung, ada protokol yang harus diikuti untuk menghormati almarhum. Sebagian area akan steril dan dikhususkan untuk keluarga, sementara pengunjung diperbolehkan untuk berada di lokasi lain. Ini menjadi langkah penting untuk menjaga ketertiban.
Nantinya, jenazah Pakubuwono XIII akan ditandu melalui hampir 500 anak tangga menuju lokasi terakhirnya. Proses ini merupakan simbol perjalanan terakhir bagi seorang raja, menggambarkan rasa hormat yang tinggi dari semua yang hadir.
Pihak kepolisian juga menerapkan aturan untuk menghindari kemacetan selama prosesi berlangsung. Masyarakat diharapkan untuk menghindari rute yang dilalui, demi kelancaran prosesi dan penghormatan yang layak.
Perjalanan Menuju Pajimatan Imogiri
Setelah disemayamkan sejenak di Rumah Dinas Wali Kota Solo, jenazah akan dipindahkan ke mobil jenazah untuk perjalanan ke Imogiri. Rute perjalanan telah disiapkan agar tidak ada kendala selama prosesi pemakaman.
Pihak kepolisian memberikan informasi kepada pengendara mengenai rute yang akan dilalui iring-iringan. Ini adalah langkah preventif untuk memastikan semua berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.
Dalam perjalanan menuju Pajimatan, iring-iringan akan melewati Jalan Raya Janti dan beberapa kawasan lainnya. Ketentuan ini diharapkan mampu menjaga ketertiban dan menjamin keamanan selama acara berlangsung.
Kesedihan yang Menyelimuti Keluarga dan Masyarakat
Bagi keluarga kerajaan, momen pemakaman ini adalah saat yang penuh emosi. Kerinduan dan kesedihan akan dirasakan oleh semua anggota keluarga yang kehilangan sosok pemimpin yang telah banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Raja Pakubuwono XIII diingat sebagai sosok yang bijak dan penuh pengabdian. Warisan yang ditinggalkannya akan selalu dikenang, baik oleh keluarganya maupun masyarakat luas.
Rasa haru di antara kerabat dan masyarakat sangat terasa. Banyak yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir, menunjukkan rasa cinta dan penghargaan terhadap almarhum. Penghormatan ini mencerminkan ikatan kuat antara pemimpin dan rakyat.




