Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, membahas soal lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ yang sering diputar dalam agenda partai. Menurutnya, lagu ini bukan sekadar identitas, tetapi juga menjadi daya dorong untuk mengingat kembali sejarah dan nilai-nilai Pancasila yang perlu dihidupkan kembali.
Hasto menegaskan bahwa dengan mendengarkan lagu tersebut, kader PDIP diharapkan dapat lebih memahami makna Marhaenisme yang sangat penting dalam perjuangan rakyat. Konsep ini, menurutnya, sering kali disalahartikan, dan perlu penjelasan yang lebih mendalam kepada kader.
“Oleh karena itu, aransemen baru yang diciptakan oleh Mas Prananda Prabowo akan sangat membantu dalam pengenalan kembali semangat perjuangan ini,” ungkap Hasto saat upacara Hari Lahir Pancasila baru-baru ini.
Pentingnya Makna di Balik Lagu ‘Bung Karno’
Hasto menekankan bahwa lagu tersebut bukan sekadar simbol politik bagi partai, melainkan juga alat untuk membangkitkan kesadaran tentang hak-hak rakyat kecil. Hal ini penting untuk menyebarkan kembali nilai-nilai Pancasila yang sering kali dilupakan dalam konteks pembangunan.
“Lagu ini membangkitkan semangat kita untuk merubah struktur yang menindas, sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila,” ujarnya. Dengan kata lain, Pancasila harus dijadikan pedoman dalam kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Dia juga menjelaskan bahwa Marhaenisme, sebagai warisan dari Bung Karno, lahir di tengah kondisi sosial yang memperjuangkan keadilan bagi kaum yang terpinggirkan. Nilai-nilai ini perlu kembali dihidupkan dalam setiap kebijakan partai.
Menjawab Stigma Negatif terhadap Marhaenisme
Salah satu tantangan terbesar dalam menghidupkan kembali nilai-nilai Marhaenisme adalah stigma yang melekat padanya, sering kali dipersepsikan secara negatif. Menurut Hasto, penting untuk mendekonstruksi pandangan ini demi memberikan gambaran yang lebih lapang mengenai Marhaenisme.
“Banyak yang menilai konsep ini identik dengan ideologi yang tidak sesuai, padahal itu adalah kebangkitan sosial yang melibatkan rakyat kecil,” tegasnya. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat bisa memperoleh gambaran jelas tentang konsep tersebut.
Hasto menambahkan bahwa perjuangan untuk mengangkat harkat rakyat kecil merupakan inti dari Marhaenisme. Ini adalah respon terhadap kondisi sosial yang sering kali mengabaikan suara-suara dari kalangan bawah.
Relevansi Pemikiran Bung Karno dalam Konteks Modern
Hasto juga mencatat tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, terutama dalam pendidikan dan daya saing di tingkat internasional. Kualitas pendidikan yang semakin menurun menjadi perhatian bagi setiap pihak, tidak terkecuali bagi PDIP.
“Kita perlu kembali merujuk kepada pemikiran para pendiri bangsa untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan ini,” ungkapnya. Semangat dari lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kebangkitan bangsa.
Menurutnya, dengan mengusung nilai-nilai Pancasila, Indonesia bisa menemukan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Langkah ini diperlukan untuk menjamin kemajuan pendidikan dan kesejahteraan rakyat.



