Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, secara resmi membuka Festival Fulan Fehan IV di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Pembukaan yang berlangsung pada hari Sabtu tersebut ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional khas Belu yang dikenal sebagai tihar.
Dalam keterangan resmi, Tito mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan dan menyatakan, “Dengan Bismillahirrahmanirrahim, Festival Fulan Fehan tahun 2026 saya nyatakan resmi dibuka.” Festival ini menghadirkan tarian kolosal bertema ‘Dance for Friendship’ yang merayakan persahabatan antara Indonesia dan Timor-Leste.
Acara ini berlangsung di savana Fulan Fehan, melibatkan empat suku yang menampilkan kekayaan budaya lokal. Pertunjukan ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk memperlihatkan bakat dan tradisi mereka di tengah keindahan alam yang memukau.
Festival Fulan Fehan sebagai Wadah Budaya dan Persahabatan
Tito Karnavian dalam sambutannya mengapresiasi penyelenggaraan festival yang merupakan pengalaman pertamanya menyaksikan secara langsung. Ia menilai festival ini sebagai momen penting yang mempertegas keragaman budaya Indonesia dan persahabatan antarnegara di kawasan.
Selama ini, ia lebih sering melihat pertunjukan yang diadakan di panggung buatan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Namun, Festival Fulan Fehan menawarkan pengalaman yang lebih alami dengan latar belakang bentang alam savana yang indah.
“Ini adalah tempat yang diciptakan oleh alam, bukan buatan manusia,” ujar Tito, menekankan keindahan lokasi yang diiringi dengan udara segar dan pemandangan Gunung Lakaan. Hal ini memberikan keunikan tersendiri bagi festival yang sudah menjadi tradisi di daerah tersebut.
Pesan Persatuan dalam Keberagaman di Fulan Fehan
Tema ‘Dance for Friendship’ dipilih untuk mencerminkan pentingnya persahabatan daripada permusuhan. Tito menegaskan bahwa empat suku yang berbeda tampil bersama, menunjukkan bahwa keberagaman dalam satu bingkai kebudayaan dapat menciptakan harmoni.
Ia merujuk pada pesan Presiden yang menyatakan, “One thousand friends are not enough, one enemy is already too many.” Hal ini menggambarkan posisi penting persahabatan dalam memperkuat stabilitas sosial dan politik di Indonesia.
Dari Timor-Leste dan Australia, para peserta dan tamu juga hadir untuk memperkuat semangat kebersamaan lintas negara. Tito menilai festival ini sebagai jembatan untuk mempererat hubungan Indonesia dengan negara tetangga melalui seni dan budaya.
Pengharapan akan Masa Depan Festival yang Lebih Besar
Tito berharap Festival Fulan Fehan tidak hanya menjadi acara hiburan, tetapi juga meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap pengunjung. Ia optimis bahwa festival ini akan berkembang ke skala internasional di masa mendatang.
Dengan semakin banyaknya pengunjung dan dukungan dari berbagai pihak, festival ini diharapkan dapat menjadi ajang tahunan yang dinantikan. “Semoga di tahun depan, Festival Fulan Fehan bisa bertransformasi menjadi festival internasional,” ungkapnya.
Festival ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, seperti Wakil Menteri Dalam Negeri, Gubernur NTT, dan berbagai tamu dari Timor-Leste dan Australia. Kehadiran mereka menunjukkan betapa pentingnya festival ini bagi kerjasama lintas batas.


