Tragedi tenggelamnya Kapal Motor Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, telah mengguncang masyarakat. Peristiwa tragis ini menimbulkan rasa duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat luas yang menyaksikan bagaimana bencana ini terjadi.
Salah satu dari keluarga korban, Andi Eka Gunarti, melaporkan insiden tersebut kepada pihak berwajib. Dia adalah ibu dari Naurah, seorang anak berusia delapan tahun yang hilang bersama kakeknya, Umar, saat kapal tenggelam.
“Kami merasa perlu mengambil langkah ini setelah berkonsultasi dengan ahli hukum. Laporan ini adalah bentuk keberatan kami terhadap kejadian yang menyedihkan ini,” kata Hasrul, paman Naurah, kepada wartawan pada Rabu, 22 Juli.
Musyawarah Keluarga Sebelum Melapor
Hasrul menjelaskan bahwa sebelum melibatkan polisi, mereka melakukan musyawarah dengan anggota keluarga besar. “Kami merasa penting untuk berkumpul dan mendiskusikan perasaan duka dan keberatan kami terkait tenggelamnya kapal yang mencuri nyawa anggota kami,” jelasnya.
Kapal itu bertolak dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng di Pulau Selayar pada Rabu, 15 Juli, sekitar pukul 05.00 WITA. Namun, dalam perjalanan, kapal mengalami masalah mesin, sehingga menyebabkan terjadinya insiden yang tragis ini.
Keluarga korban curiga bahwa ada unsur kesengajaan dibalik kerusakan mesin tersebut. “Kami mendapatkan informasi bahwa mesin kapal sengaja dimatikan karena mengalami overheating, yang menjadi salah satu alasan kami meminta penyelidikan lebih lanjut,” tambahnya.
Pihak Berwenang Tanggapi Laporan Keluarga
Kasubsi Penmas Polres Kepulauan Selayar, Aipda Suardi Andre, mengonfirmasi bahwa laporan dari keluarga sudah diterima. “Laporan seperti ini wajar dan kami hargai sebagai tindakan responsif terhadap kehilangan yang mereka alami,” ujarnya.
Dalam upaya penyelidikan, pihak kepolisian telah memeriksa lebih dari 20 saksi, termasuk nakhoda, ABK, dan pihak-pihak terkait. Suardi menjelaskan bahwa proses hukum telah berjalan meskipun keluarga melapor.
“Kami berencana untuk segera melakukan gelar perkara mengenai musibah tenggelamnya KM Nurul Salsa. Penyelidikan ini vital untuk menentukan langkah selanjutnya,” tegasnya.
Detail Tragedi Karamnya KM Nurul Salsa
KM Nurul Salsa karam di perairan sebelah barat Pulau Polassi pada 15 Juli, setelah mengalami pemadaman mesin sekitar pukul 10.00 WITA. Setelah berjuang melawan gelombang tinggi, kapal akhirnya terbalik dan tenggelam.
Awalnya, manifes mencatat sekitar 46 orang di atas kapal, namun tim gabungan Basarnas menemukan bahwa jumlahnya mencapai 78, termasuk delapan ABK. Kapal tersebut juga membawa muatan barang sembako dan sepeda motor.
Tim SAR melanjutkan operasi pencarian selama seminggu, dan perpanjangan dilakukan setelah diketahui masih ada 16 penumpang yang hilang. Operasi dilakukan dengan koordinasi dari pihak pemerintah daerah dan unsur Forkopimda setempat.
Tantangan dalam Pencarian Korban di Laut
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana TNI Yudhi Bramantyo, menjelaskan bahwa tim pencarian harus menghadapi tantangan cuaca yang buruk. Gelombang tinggi di seputar Kepulauan Sabalana menambah kesulitan dalam pengoperasian personel dan alat-alat pencarian.
Meski demikian, pencarian dilakukan secara intensif di dua sektor, dimulai dari bagian timur hingga barat Kepulauan Sabalana. Operasi berjalan dengan cermat, mengingat kondisi laut yang tidak bersahabat.
Hingga hari kedelapan pencarian, sebanyak 59 orang ditemukan selamat, sementara tiga orang ditemukan dalam keadaan meninggal. Sedangkan 16 orang lainnya masih dalam status pencarian.
Peristiwa ini pastinya menyisakan banyak pertanyaan dan harapan bahwa penyelidikan yang dilakukan dapat mengungkap fakta-fakta penting terkait insiden ini. Keluarga korban berharap keadilan untuk orang yang mereka cintai, dan masyarakat juga menanti informasi lebih lanjut mengenai penyebab tenggelamnya kapal ini dan langkah-langkah pencegahan di masa depan.



