Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengingatkan tentang kemungkinan adanya tumpang tindih fungsi antara Lembaga Ketahanan Nasional dan Universitas Republik Indonesia (URI) yang baru saja dibentuk. URI dianggap sebagai lembaga yang diharapkan dapat mempersiapkan calon-calon pemimpin nasional di Indonesia.
Sebelumnya, Hasto Kristiyanto meminta agar pemerintah mempertimbangkan sejarah pendirian Lemhannas yang sudah ada untuk mencegah overlapping tersebut. Dalam pandangannya, Lemhannas telah didirikan untuk mendidik para calon pemimpin, baik dari kalangan sipil maupun militer.
Kalangan PDIP berpendapat bahwa sebelum lembaga baru didirikan, seharusnya ada kajian mendalam agar tidak terjadi redundansi fungsi. Hal ini penting untuk mencegah kesalahan dalam perencanaan yang berpotensi membingungkan masyarakat.
Pentingnya Kajian Mendalam Sebelum Mendirikan Lembaga Baru
Hasto juga menjelaskan bahwa pendirian URI seharusnya didahului dengan analisis yang cermat. Kajian ini diperlukan untuk mengetahui apakah lembaga tersebut memiliki tujuan yang jelas dan berbeda dari lembaga pendidikan lainnya. Sebab, saat ini banyak perguruan tinggi yang tidak bisa dibedakan fungsi dan tujuannya.
Lebih lanjut, ia menekankan contoh universitas yang memiliki keunikan, seperti Universitas Cenderawasih dan Universitas Pattimura yang dibentuk untuk mengatasi masalah maritim di Papua dan Maluku. Dengan memiliki fokus yang jelas, diharapkan perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.
Menurutnya, setiap lembaga pendidikan tinggi harus mampu menonjolkan diferensiasi dalam kurikulum dan visinya. Hal ini menjadi suatu keharusan agar mereka tidak beroperasi dalam zona yang sama dengan lembaga lain yang sudah ada.
Pendidikan Kepemimpinan yang Diterapkan di Berbagai Negara
Menteri Sekretaris Negara juga menyatakan bahwa URI dirancang berdasarkan model pendidikan kepemimpinan yang telah sukses di banyak negara. Dalam penglihatannya, lembaga semacam itu telah terbukti berhasil dalam mempersiapkan calon pemimpin untuk posisi strategis dalam pemerintahan.
Dia menjelaskan bahwa pemerintah telah mempersiapkan inisiatif ini sejak waktu yang cukup lama, meskipun tidak diketahui masyarakat luas. Rencananya, langkah-langkah detail mengenai URI akan segera dijelaskan kepada publik untuk menjernihkan adanya kebingungan.
Berbagai negara sebagai contoh telah menunjukkan pentingnya pembentukan lembaga pendidikan yang fokus pada kepemimpinan. Diharapkan, URI bisa berjalan seiring dengan lembaga lainnya yang bertujuan mencetak pemimpin berprestasi dan berintegritas di Indonesia.
Kritik Terhadap Proses Pembentukan URI yang Tergesa-gesa
Namun, kehadiran URI juga menunjukan adanya kritik dari berbagai kalangan terutama di lembaga legislatif. Wakil Ketua Komisi X mengungkapkan ketidakpahaman mengenai kapan dan bagaimana pendirian URI dilakukan, mengingat hal tersebut tidak pernah dibahas dalam rapat resmi.
Dia menekankan bahwa Komisi X seharusnya mendapatkan penjelasan mengenai dasar hukum, fungsi, serta anggaran dari lembaga baru ini sebelum memulai proses pembentukannya. Tanpa adanya transparansi, masyarakat berhak merasa ragu akan keberadaan URI.
Merespons hal ini, pemerintah diharapkan memberikan penjelasan menyeluruh mengenai perbedaan URI dengan berbagai institusi pendidikan lainnya, baik itu perguruan tinggi, akademi, atau sekolah kedinasan yang ada di tanah air.



