Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menekankan perlunya tindakan luar biasa dari pemerintah dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan. Krisis yang makin meluas ini berdampak pada kesehatan masyarakat, pendidikan, serta kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.
“Fenomena cuaca kering akibat El Niño merupakan faktor penyebab yang tidak bisa diabaikan, terutama saat puncaknya diperkirakan terjadi pada bulan Agustus-September,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu. Karenanya, penanganan Karhutla menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan.
Menurutnya, peninjauan yang lebih mendalam terhadap masalah ini sangat diperlukan. Langkah-langkah preventif harus diambil untuk meminimalisir dampak kebakaran yang sudah sangat signifikan ini.
Pentingnya Penanganan Karhutla di Kalimantan
Tindakan yang cepat dan tepat untuk mengatasi kebakaran hutan di Kalimantan harus menjadi bagian dari prioritas nasional saat ini. Sejarah mencatat, pada tahun 1997-1998, Indonesia mengalami bencana serupa akibat El Niño, yang menyebabkan kebakaran di lebih dari sembilan juta hektare lahan. Dampak bencana tersebut sangat luar biasa dan berpengaruh hingga ke aspek ekonomi dan lingkungan.
“Krisis lingkungan yang terjadi saat itu merupakan salah satu yang terburuk dalam sejarah Asia Tenggara. Kita tidak boleh membiarkan sejarah ini terulang kembali,” tambah Alex. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting dalam mengatasi masalah ini secara efektif.
Terutama di Kalimantan, dampak Karhutla sudah sangat nyata. Indeks kualitas udara di beberapa daerah menunjukkan angka yang berbahaya bagi kesehatan, seperti di Palangka Raya yang mencatat indeks AQI mencapai 487.
Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Masyarakat dan Pendidikan
Kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga pada aktivitas pendidikan. Dinas Pendidikan di beberapa daerah terpaksa menunda jam masuk sekolah akibat kabut asap yang pekat. Pengalihan pembelajaran juga dilakukan untuk jenjang PAUD, yang dialihkan ke metode pembelajaran jarak jauh.
Situasi ini memperlihatkan betapa seriusnya ancaman yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan. Jarak pandang di beberapa area menurun drastis, hanya tinggal 1,4 kilometer, membuat mobilitas masyarakat terganggu. Ini menuntut adanya perhatian lebih dari pemerintah.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga pertengahan Agustus, terdapat 1.487 titik panas di Kalimantan, yang menunjukkan tingginya risiko kebakaran hutan di daerah tersebut.
Data dan Fakta Kebakaran Hutan di Kalimantan
Meskipun penyebaran titik kebakaran terbagi di beberapa provinsi, Kalimantan Tengah menjadi episentrum dengan konsentrasi tertinggi. Dari total titik panas, 767 berada di Kalimantan Tengah, diikuti oleh Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara.
Akhir-akhir ini, Kabupaten Kotawaringin Barat pun harus memperpanjang status tanggap darurat hingga awal September. Data terbaru melaporkan bahwa kebakaran telah menghanguskan lebih dari 859 hektare lahan di daerah tersebut.
Kecamatan Arut Selatan dan Kumai, misalnya, mencatatkan angka yang signifikan terkait luas area yang terbakar. Evaluasi mendalam terhadap penanganan lahan dan kebijakan yang ada sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terjadi di masa depan.
Rekomendasi untuk Mengatasi Karhutla di Kalimantan
Sebagai upaya pencegahan, Alex menyarankan agar pendekatan jangka panjang diterapkan. Pemerintah perlu mengimplementasikan sistem peringatan dini yang lebih efisien, termasuk pemantauan berbasis satelit untuk meningkatkan akurasi deteksi titik panas.
Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat pun memiliki peranan yang tidak kalah penting. Program Desa Peduli Api dan pelatihan mengenai metode pembukaan lahan tanpa bakar perlu diperluas agar kesadaran masyarakat meningkat.
“Mitigasi terhadap Karhutla bukan hanya tugas pemerintah, tetapi harus melibatkan peran aktif masyarakat. Kesejahteraan sosial dan ekonomi juga harus diintegrasikan dalam strategi penanganan kebakaran ini,” pungkasnya.



