Bencana longsor terjadi di Eco Park Pelaga Glamping Retreat, yang terletak di Banjar Bukit Munduk Tiying, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Insiden ini melibatkan dua orang pengunjung yang diduga masih tertimbun di bawah material longsor saat kejadian yang berlangsung pada Minggu malam, tepatnya pukul 23.00 WITA.
Kepala Kantor SAR Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengungkapkan bahwa laporan mengenai bencana ini diterima pada Senin pagi, pukul 06.10 WITA. Dengan cepat, pihak berwenang segera merespons insiden tersebut dan melakukan langkah-langkah pencarian.
Dari informasi yang diperoleh, diketahui bahwa pemilik Eco Park mencurigai ada dua pengunjung yang berada di lokasi saat tanah longsor menimpa tempat menginap tersebut. Hal ini mengundang perhatian serius dari tim pencarian untuk melaksanakan upaya penyelamatan.
Karena kondisi cuaca yang buruk, upaya pencarian awal dilakukan oleh pihak pengelola glamping serta BPBD Kabupaten Badung, Camat Petang, dan Polsek Petang. Namun, hujan deras dan akses yang sulit menuju lokasi menghambat proses pencarian, sehingga kegiatan tersebut harus ditunda demi keselamatan semua pihak.
Proses Pencarian dan Pertolongan di Lokasi Longsor
Setelah melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, pengelola Eco Park meminta bantuan untuk melakukan operasi SAR. Merespons laporan ini, tim SAR terdiri dari sembilan personel segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pencarian lebih lanjut.
Tim SAR bertugas untuk mengeksekusi operasi pencarian dan pertolongan dengan mempertimbangkan kondisi medan yang sulit, serta memastikan keselamatan personel yang terlibat. Hingga saat ini, tim masih dalam proses penanganan dan informasi terbaru terkait kegiatan ini akan disampaikan kepada publik.
Sementara itu, longsor juga mengakibatkan jalan di Banjar Gambih, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, amblas. Kejadian ini dilaporkan terjadi pada Senin dini hari, tepatnya pukul 03.00 WITA, dan berdampak pada akses lalu lintas di area tersebut.
Menurut Kasi Humas Polres Gianyar, Ipda Gusti Ngurah Suardita, longsor yang mempengaruhi jalan tersebut mengakibatkan badan jalan amblas sepanjang 15 meter dengan lebar sekitar 7 meter. Ini menjadi perhatian besar bagi pihak berwenang, mengingat potensi longsor susulan yang bisa mengancam keselamatan warga dan pengguna jalan.
Pengaruh Cuaca dan Faktor Penyebab Longsor di Bali
Longsor yang terjadi di beberapa lokasi dalam waktu bersamaan diduga kuat disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, menyebabkan tanah menjadi labil. Kejadian ini memperlihatkan bahwa Bali, dengan wilayah pegunungannya, sangat rentan terhadap bencana alam seperti longsor. Ketika curah hujan tinggi, lahan yang sudah tergerus dapat dengan mudah runtuh.
Selain longsor di Eco Park dan Gianyar, Kabupaten Bangli juga mengalami kejadian serupa. Akses jalan yang menghubungkan Banjar Pulasari Kawan dan Desa Bangbang di Kecamatan Tembuku terputus akibat amblas, ditandai dengan kondisi saluran air yang tidak mampu menampung debit air yang tinggi.
Kasi Humas Polres Bangli, Iptu I Gede Gumiliarta, menyatakan bahwa bencana ini menyebabkan warga harus mencari jalan alternatif yang lebih jauh hingga 3 hingga 4 kilometer, karena jalan utama terputus. Situasi ini tentu sangat menyulitkan dan mempengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat, terutama untuk transportasi.
Keberadaan saluran air yang tidak efektif juga menjadi sorotan. Banyak bencana longsor maupun amblasnya jalan dapat dihindari jika infrastruktur drainase lebih diperhatikan dan ditingkatkan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa depan.
Langkah Lanjutan dan Tindakan Pihak Berwenang
Untuk mencegah terulangnya bencana serupa, pemerintah setempat serta pihak berwenang di Bali perlu melakukan evaluasi terhadap sistem drainase di daerah rawan longsor. Ini diperlukan agar saluran air dapat berfungsi dengan baik, menghindari akumulasi air yang dapat menggerus tanah di tebing-tebing yang curam.
Tak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi hal penting. Kesadaran akan risiko yang dihadapi saat tinggal di daerah rawan longsor harus ditingkatkan, terlebih di musim hujan. Dengan mempersiapkan rencana kontingensi, masyarakat bisa lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
Pihak berwenang juga harus melakukan pemeriksaan rutin terhadap area yang berpotensi longsor. Pemantauan terhadap perubahan cuaca dan kondisi tanah juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Ini menjadi bagian penting dari manajemen risiko bencana yang efektif.
Dengan berupaya meningkatkan infrastruktur dan kesadaran masyarakat, diharapkan risiko bencana di Bali, khususnya longsor, dapat diminimalisir. Seluruh pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait harus berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan layak huni bagi semua.



