Masjid Raya Negeri Sepa, terletak di Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi saksi tradisi unik yang dikenal sebagai ‘Salawate’ menjelang Salat Iduladha 1447 H. Tradisi ini meliputi kumpul uang untuk mendukung kebutuhan masjid dan imam, yang dilakukan oleh komunitas dengan semangat kebersamaan.
Setiap tahun, acara ini menyatukan warga yang datang dari berbagai penjuru untuk berpartisipasi dalam ritual yang sudah berlangsung turun-temurun. Kumpul uang ini diawali dari saf terdepan yang dihuni oleh pemuka adat, agama, dan raja setempat, menunjukkan kedalaman budaya yang ada di tengah masyarakat.
Setelah pengumpulan uang dilakukan oleh dua muazin dan seorang marbot, mereka mendatangi setiap saf para jemaah dengan membawa sajadah. Tradisi ini tidak hanya menunjukkan rasa syukur, tetapi juga memperkuat solidaritas di antara warga.
Makna dan Signifikansi Tradisi ‘Salawate’ di Masyarakat
Tradisi ini membawa makna kepada penduduk setempat bahwa nilai-nilai gotong royong harus terus dijaga. Imam Masjid Negeri Sepa, Said Ahmad Bubakar, menekankan bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan dengan baik.
Uang yang terkumpul dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan penghulu masjid dan imam. Hasil pengumpulan ini tidak dipaksakan, melainkan dilakukan dengan penuh keikhlasan dan sukarela oleh warga.
Penting untuk mendalami sejarah di balik tradisi ini. Masyarakat Negeri Sepa meyakini bahwa kegiatan ini membantu memperkuat ikatan sosial antar warga sekaligus mendekatkan mereka kepada nilai-nilai agama.
Pelaksanaan Salat Iduladha dan Pesan Moral yang Disampaikan
Usai mengumpulkan uang dari kegiatan ‘Salawate’, Salat Iduladha pun dimulai. Muhammad Daut Sopalatu terpilih sebagai imam pada kesempatan tersebut, menandakan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin agama mereka.
Muazin masjid tertua, Jafar Wasolo, dengan suara bergetar mengambil tongkat khotbah, simbol penting untuk memulai khotbah di mimbar. Tongkat khotbah tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya pelaksanaan ibadah dengan penuh khidmat.
Kiai Haji Ali Mahfudz, yang menjabat sebagai khatib, menekankan pentingnya mengenang kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, yang menjadi inti dari perayaan Iduladha. Ia mengajak semua jemaah untuk saling menghargai dan mengasihi seperti saudara.
Menjalin Silaturahmi dan Doa Bersama
Setelah selesai melaksanakan Salat Id, momen saling berjabat tangan menjadi ajang untuk merajut silaturahmi dan saling memaafkan. Momen ini sangat emosional, dengan banyak warga yang terharu sambil saling berpelukan.
Di penghujung kegiatan, warga menggelar tahlil sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah tiada. Doa bersama ini mengungkapkan harapan agar negeri terjaga dan dilimpahkan rezeki.
Melalui tradisi ini, masyarakat Negeri Sepa tidak hanya merayakan Iduladha, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang sudah diajarkan oleh nenek moyang mereka. Tradisi tersebut mengingatkan pentingnya kebersamaan dan saling asah asih antar sesama.



