Tifauziah Tyassuma, yang dikenal sebagai dokter Tifa, baru-baru ini menceritakan pengalamannya saat ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Tebet, Jakarta Selatan, ia mengungkapkan sejumlah keheranannya terkait proses penangkapannya dan apa yang terjadi setelah itu.
Salah satu momen yang paling mengejutkan baginya adalah saat ia diborgol menggunakan kabel ties ketika akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Tifa merasa tindakan tersebut tidak pantas dan meragukan posisi hukumnya sebagai seorang dokter yang selama ini menjaga ketaatan pada hukum.
Lebih lanjut, Tifa juga mengungkapkan kebingungannya mengenai rute perjalanan yang diambil setelah ditangkap. Ia merasa tidak mendapatkan penjelasan yang memadai tentang prosedur tersebut.
Menghadapi Ketidakpastian: Pengalaman Tifa Selama Ditahan
Setelah ditangkap, Tifa dan rekannya, Roy Suryo, dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk pemeriksaan kesehatan. Keduanya diduga mengalami masalah kesehatan dan harus dirawat inap untuk memastikan kondisi fisik mereka stabil sebelum proses pelimpahan ke Kejaksaan.
Saat berada di rumah sakit, Tifa merasa bingung mengapa mereka harus kembali ke Polda Metro Jaya sebelum menuju Kejaksaan. Baginya, ini tampak seperti prosedur yang tidak efisien dan tidak perlu.
Selama berada di Polda, mereka mengenakan baju tahanan oranye, yang menjadi simbol ketidakadilan menurut pandangan Tifa. Menurutnya, hal ini membuatnya merasa sangat tertekan, apalagi ketika kemudian diminta untuk menggunakan borgol.
Tanggapan Tifa Terhadap Perlakuan Selama Proses Hukum
Dalam konferensi pers tersebut, Tifa mengutarakan rasa herannya tentang perlakuan yang diterimanya. Ia mempertanyakan mengapa sebagai seorang medis harus mengalami perlakuan seperti penjahat, ketika ia merasa tidak melakukan kesalahan yang begitu besar.
Kebingungan tersebut bukan hanya dirasakannya, tetapi juga disampaikan secara terbuka. Dengan nada yang lebih santai, Tifa menggambarkan situasi di dalam mobil tahanan, di mana ia diperintah untuk menggunakan borgol.
Dalam berbagai kesempatan, Tifa menegaskan bahwa ia bukan penjahat. Sebagai profesional di bidang medis, ia merasa sudah banyak berkontribusi untuk masyarakat dan seharusnya diperlakukan lebih baik dalam proses hukum yang sedang dihadapinya.
Perkembangan Terakhir dan Sidang yang Akan Datang
Kunjungan Tifa dan Roy ke Kejaksaan pada Senin lalu ditandai dengan banyaknya perhatian media. Saat tiba, keduanya diperlihatkan dengan borgol dan baju tahanan, yang menambah kesedihan mengenai situasi yang mereka hadapi.
Setelah pelimpahan kejaksaannya, Kejaksaan memutuskan untuk tidak menahan mereka, tetapi keduanya diwajibkan untuk melapor setiap minggu. Hal ini menjadi perhatian karena proses hukum selanjutnya akan dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Berdasarkan pengumuman yang diberikan oleh pihak kejaksaan, sidang akan digelar sesegera mungkin. Tindakan ini menunjukkan bahwa kasus mereka dinyatakan penting dan perlu diselesaikan dalam waktu singkat.


