Di Bandar Lampung, sebuah insiden menarik perhatian banyak orang ketika seorang warga menemukan buaya muara sepanjang 2,5 meter di rumahnya. Hewan reptil ini, yang dikenal sebagai Coki, dievakuasi oleh petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan setempat untuk diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Evakuasi yang berlangsung pada akhir pekan itu menarik emosi pemiliknya, Wike, yang mengaku telah merawat Coki selama tiga tahun. Detik-detik haru terlihat saat ia terpaksa melepas buaya kesayangannya, yang sudah dianggap seperti bagian dari keluarga.
Proses evakuasi dilakukan oleh petugas dengan peralatan yang lengkap, menjadikan pemandangan yang cukup dramatis. Buaya dimasukkan ke dalam transportasi khusus untuk memastikan keselamatannya dalam perjalanan menuju tempat penangkaran.
Proses Evakuasi Buaya Muara yang Menguras Emosi
Pihak Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan berupaya keras agar proses evakuasi berjalan lancar. Kasi Bidang Penyelamatan, Omar Dhani, mengungkapkan bahwa proses tersebut berlangsung selama 10 hingga 15 menit.
Dalam proses tersebut, satu mobil rescue beserta tujuh personel dikerahkan untuk memastikan buaya didapatkan tanpa cidera. Alat-alat seperti tali, helm, dan sarung tangan digunakan untuk meningkatkan keamanannya.
Buaya Coki yang dievakuasi diperlakukan dengan hati-hati. Petugas melakukan langkah demi langkah, mulai dari mengarahkan Coki ke daratan hingga mengikat mulut dan tubuhnya untuk mencegahnya melawan.
Tujuan Evakuasi dan Penangkaran Buaya
Setelah berhasil dievakuasi, buaya tersebut diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Rencananya, Coki akan dibawa ke tempat penangkaran khusus yang dimiliki oleh sebuah perusahaan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Hade Hambrata, Koordinator Satpel Palembang dari LPK Pekanbaru, menyatakan bahwa penangkaran ini diperlukan agar buaya bisa hidup dengan baik dan aman. Ini adalah langkah preventif untuk memastikan bahwa Coki tidak lagi membahayakan warga.
Pengelolaan buaya liar oleh masyarakat tanpa izin dilarang, dan pihak berwenang terus menghimbau agar masyarakat melaporkan jika ada pemeliharaan buaya secara ilegal. Pentingnya penegakan hukum dalam hal ini menjadi sorotan utama.
Emosi Keluarga dan Dampak Sosial
Wike, sebagai pemilik Coki, menunjukkan reaksi emosional yang mendalam saat proses evakuasi berlangsung. Ia merasa kehilangan, terutama karena telah merawatnya sejak kecil, menciptakan ikatan emosional yang kuat.
Camat Panjang, Hendry Satria Jaya, juga mengakui kompleksitas situasi ini. Meskipun diperlukan untuk mengevakuasi buaya demi keamanan masyarakat, ia memahami betapa sulitnya bagi pemilik untuk melepaskan hewan peliharaan yang telah menjadi teman.
Hendry menekankan bahwa meskipun buaya tersebut dianggap sebagai hewan peliharaan, risiko keselamatan menjadi alasan utama untuk mengambil tindakan. Buaya yang semakin besar dan berkeliaran di sekitar pekarangan rumah bisa menjadi ancaman nyata.



