Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 nyawa terjadi pada 1 Oktober 2022 di Malang, Jawa Timur. Incident ini menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia, menggugah perhatian publik terhadap keselamatan dalam acara olahraga.
Empat tahun berlalu sejak peristiwa tersebut, kenangan pahitnya masih membekas di hati keluarga korban dan komunitas suporter. Pada peringatannya yang diselenggarakan oleh masyarakat sipil dan suporter Aremania di Balai Kota Malang, ada tuntutan untuk keadilan yang belum terpenuhi.
Peringatan juga dilaksanakan saat pertandingan timnas Indonesia melawan Bangladesh di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Seruan hening di tengah pertandingan oleh suporter menunjukkan solidaritas terhadap korban.
Kenangan Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan dan Pencarian Keadilan
Dalam rangka memperingati tragedi ini, masyarakat mengingatkan tanggung jawab pemerintah dan pihak terkait untuk tetap bersikap proaktif dalam pencarian keadilan. Seorang perwakilan suporter, Ambon Fanda, menyatakan bahwa kondisi ini tidak mudah untuk dilupakan dan berharap agar pemerintah tidak berpaling dari keadaan ini.
Fanda juga menyoroti ringannyahukuman yang dijatuhkan kepada para terdakwa, yang menurutnya tidak mencerminkan keadilan bagi orang-orang yang kehilangan nyawa. Hukuman tersebut dianggap sangat sepele jika dibandingkan dengan konsekuensi dari tragedi ini.
Satu-satunya tersangka yang akan dibawa ke pengadilan, mantan Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru, Akhmad Hadian Lukita, telah dibebaskan dan tidak diadili. Keputusan ini memicu kemarahan banyak pihak yang menuntut transparansi dan akuntabilitas.
Proses Hukum dan Kontroversi seputar Kasus Terhadap PT LIB
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya menegaskan bahwa Hadian dan PT LIB mengabaikan keselamatan selama pertandingan berlangsung. Hal ini diungkapkan saat sidang terhadap Ketua Panpel pertandingan Arema FC, Abdul Haris, dan Security Officer, Suko Sutrisno, di awal tahun 2023.
Pihak pengadilan menemukan bahwa meskipun permintaan untuk memajukan jadwal pertandingan demi alasan keamanan telah disampaikan, tidak ada langkah nyata yang diambil untuk menyelamatkan para suporter dan pemain. Hal ini menunjukkan kekhawatiran akan motivasi bisnis yang melekat di dalam keputusan tersebut.
Bahkan, keputusan untuk tidak mengubah jadwal pertandingan masih terikat pada kontrak yang menguntungkan pihak broadcaster, meninggalkan pertanyaan etis tentang prioritas yang diambil.
Kerugian dan Dampak Bagi Korban dan Keluarga
Tragedi Kanjuruhan tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga dan komunitas suporter. Ratusan orang terluka, dan banyak keluarga harus menghadapi kehilangan yang tak terperbaiki. Kejadian ini menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam di masyarakat.
Selama proses hukum, banyak keluarga korban yang merasa diabaikan dan tidak mendapatkan keadilan yang layak. Demikian halnya, hukuman ringan yang dijatuhkan kepada para terdakwa tidak dianggap setimpal dengan jumlah korban jiwa yang telah jatuh.
Desakan untuk pemerintah agar bertindak cepat dan tepat guna memberikan keadilan bagi korban terus menjadi agenda penting bagi suporter dan masyarakat luas. Di tengah tuntutan ini, suara-suara mengingatkan pentingnya mencegah agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.



