Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis, 20 Agustus, pukul 05.45 WIB. Peristiwa ini berpusat di darat, tepatnya sekitar 34 kilometer arah timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman mencapai 10 kilometer.
Dari hasil pemodelan yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peristiwa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meskipun demikian, guncangan dirasakan cukup kuat di beberapa wilayah, termasuk Manggarai Barat, Nagekeo, dan Sikka.
Hingga pukul 06.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 3.422 kali gempa susulan setelah gempa besar magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus lalu. Guncangan pagi ini juga terasa kuat hingga ke Kota Labuan Bajo, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah.
Gelombang Guncangan yang Terus Berlangsung di Wilayah NTT
Alfonsius Ardi, seorang warga Lingkungan Lancang, Kelurahan Wae Kelambu, memberikan kesaksian tentang momen guncangan tersebut. Ia mengungkapkan, “Tiba-tiba rumah berguncang kuat sekali, benda-benda di lemari berjatuhan.” Dengan kepanikan yang melanda, warga pun segera keluar dari rumah masing-masing.
Kepala BMKG Wilayah NTT, Arief Tyastama, menginformasikan tentang data terbaru terkait aktivitas gempa susulan. Ia menjelaskan bahwa gempa susulan kemungkinan akan terus terjadi selama beberapa pekan ke depan, menyusul gempa besar sebelumnya.
“Sampai dengan tanggal 20 Agustus pukul 05.00 WIB, sudah tercatat 3.394 kali gempa susulan. Kami memprediksi bahwa masih ada potensi untuk terjadi gempa susulan dalam waktu 3-4 minggu ke depan,” tambah Arief.
Rincian Lengkap Gempa Susulan Hingga Saat Ini
BMKG juga merilis rincian mengenai aktivitas gempa susulan, dengan total kejadian sebanyak 3.422 kali. Dari angka tersebut, magnitudo terbesar tercatat sebesar 6,2, sedangkan magnitudo terkecil 1,1. Dari total guncangan, ada 26 kali yang berkekuatan magnitudo 5 ke atas dan 99 kali yang dirasakan oleh masyarakat.
Arief menyatakan bahwa pola penurunan aktivitas gempa menunjukkan proses pelepasan energi masih berlangsung. Proses ini menuju keseimbangan baru di zona sumber gempa. “Magnitudo bervariasi dan cenderung mengecil, meskipun terkadang gempa yang dirasakan masih akan muncul,” jelasnya.
Informasi akurat dan terbaru sangat penting bagi masyarakat setempat dalam menghadapi situasi ini. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak jelas kebenarannya.
Pentingnya Kesiapsiagaan dan Waspada Terhadap Gempa
BMKG juga menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan. Masyarakat disarankan untuk hanya mempercayai informasi resmi dari lembaga-lembaga terkait, seperti BMKG dan BPBD setempat.
Ketika bencana alam seperti ini terjadi, kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Masyarakat di daerah rawan gempa perlu memahami langkah-langkah yang harus diambil untuk melindungi diri dan keluarga.
Membangun kesadaran tentang gempa bumi dan langkah-langkah mitigasi yang tepat dapat membantu mengurangi risiko bencana di masa depan. Pemerintah dan lembaga terkait juga terus berupaya meningkatkan informasi dan edukasi kepada masyarakat.



