Insiden kebakaran yang melanda KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, menjadi mimpi buruk bagi para penumpangnya. Mereka mengalami detik-detik menegangkan yang membawa mereka berada di tengah lautan selama lima jam, terombang-ambing tanpa kepastian dalam keadaan panik dan ketakutan.
Sejumlah penyintas, seperti Arya, seorang sopir ekspedisi berusia 23 tahun, mengingat peristiwa tersebut dengan jelas. Saat menikmati sarapan di kapal, semuanya mendadak berantakan ketika ia mendengar teriakan tentang kebakaran yang terjadi di kapal.
Panic langsung menyebar di antara penumpang. Arya yang pada awalnya tenang, kini terkepung oleh ketakutan dan keputusasaan. Ia segera mencari pelampung untuk menyelamatkan diri dan meninggalkan sarapannya tanpa pikir panjang.
Detik-Detik Kebakaran yang Mengejutkan Para Penumpang
Peristiwa kebakaran itu terjadi pada pagi hari ketika banyak penumpang sedang santai menikmati makanan. Arya melanjutkan ceritanya, bahwa ia berlari ke dek depan setelah mengenakan pelampung dan melihat api yang semakin besar menghampiri bagian haluan kapal.
“Api sudah mulai membakar bagian depan dan panas mulai terasa,” ujarnya. Dalam kondisi yang semakin memburuk, Arya tidak punya pilihan lain selain melompat ke laut dan berharap untuk diselamatkan.
Situasi serupa juga dialami oleh Reza, seorang penyintas lain. Ketika kebakaran terjadi, ia berada di dek dua, menikmati sarapan. Teriakan dan hiruk-pikuk penumpang lainnya membuatnya segera bergegas mencari pelampung dan mencoba menyelamatkan diri.
Ketika asap memenuhi bagian dalam kapal, Reza mencari sepupunya namun tidak menemukan. Dalam keadaan kritis, ia berlari menuju bagian haluan dan memutuskan untuk melompat ke laut sebagai upaya penyelamatan.
Proses Evakuasi yang Menguras Emosi dan Tenaga
Bagi Arya, momen terombang-ambing di laut terasa menakutkan. Ia hanya dilindungi pelampung sembari menunggu bantuan. “Setelah lima jam, harapan itu muncul saat sebuah kapal tanker mendekat,” tambahnya.
Bersama sebelas penyintas lainnya, Arya berhasil dievakuasi ke kapal milik Pertamina sebelum akhirnya dipindahkan ke KRI Nala-363. Mereka merasakan lega saat akhirnya mendapatkan pertolongan dan dibawa ke pelabuhan.
Di Terminal Gapura Surya Nusantara, banyak penyintas lainnya berkumpul untuk mendapat perawatan dan dukungan. Para relawan dan petugas kesehatan siap membantu mereka yang trauma dan mengalami masalah fisik akibat insiden tersebut.
Reza juga merasakan perasaan yang sama saat diselamatkan dan dibawa ke pelabuhan. “Kami sangat bersyukur bisa selamat dari kejadian yang sangat mengerikan ini,” ujarnya mengenang saat-saat genting tersebut.
Kronologi Kebakaran yang Mencengangkan dan Respons yang Cepat
Kapal Motor Penumpang Mutiara Sentosa II berangkat dengan membawa sekitar 250 penumpang pada rute Surabaya-Makassar. Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 08.24 WIB di lokasi yang berada 19 mil laut di utara Pulau Buruan.
Kepala Kantor SAR Surabaya menyampaikan bahwa petugas menerima laporan awal dari Syahbandar Tanjung Perak dan langsung bergerak cepat. Komunikasi dengan nakhoda dilaporkan terputus, sehingga tim SAR harus mengoordinasikan upaya penyelamatan dengan tepat dan cepat.
Petugas melakukan komunikasi berkelanjutan dengan berbagai pihak untuk menentukan posisi kapal. Dengan informasi yang diterima dari kapal di sekitarnya, mereka bisa memastikan lokasi kebakaran dan kondisi darurat yang dialami penumpang.
Hasil upaya koordinator menunjukkan total 234 penumpang dilaporkan berada di kapal saat kejadian. Tim SAR berhasil menyelamatkan 229 orang dengan selamat, sementara lima orang lainnya ditemukan tak bernyawa.
Refleksi dan Laporan Akhir Setelah Insiden
Insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II menjadi pelajaran penting bagi semua pihak terkait transportasi laut. Baik penumpang maupun operator kapal perlu lebih waspada dan siap menghadapi situasi darurat yang bisa terjadi kapan saja.
Setelah evakuasi, para penyintas mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan kesedihan yang mereka alami. Dukungan dari pemerintah dan masyarakat sangat penting bagi mereka untuk pemulihan mental dan fisik pasca-tragedi.
Secara keseluruhan, kejadian ini menggugah kesadaran akan pentingnya keselamatan dan keamanan saat berlayar. Masyarakat diharapkan selalu waspada dan memahami prosedur keselamatan yang ada di kapal.



