Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menyampaikan bahwa mayoritas daerah yang terdampak bencana di tiga provinsi telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Di Sumatera, berangsur-angsur kondisi wilayah yang ditimpa banjir membaik, dan pengungsi mulai kembali ke tempat tinggal sementara mereka.
Kondisi tersebut menggambarkan upaya pemulihan yang berjalan efektif, di mana banyak pengungsi telah beralih dari tenda pengungsian ke hunian sementara. Ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam proses rehabilitasi pascabencana yang telah dilakukan oleh pemerintah.
STATUS PEMULIHAN DI TIGA PROVINSI YANG TERDAMPAR BANJIR
Menurut laporan terakhir, Sumatera Barat telah mengalami pemulihan di 13 dari 16 kabupaten/kota yang terdampak. Tito menyatakan bahwa sekitar 80 persen wilayah telah pulih, meski masih ada beberapa area, seperti Tanah Datar, yang perlu perhatian lebih lanjut.
Provinsi Sumatera Utara juga menunjukkan perkembangan yang serupa, di mana 16 dari 19 kabupaten/kota sudah kembali normal. Hanya Tapanuli Selatan yang hampir pulih, sementara dua daerah lainnya, yaitu Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, masih memerlukan perhatian ekstra dari pemerintah.
Di Aceh, 10 dari 18 kabupaten/kota yang terdampak telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Gayo Lues, misalnya, sudah mendekati kondisi normal, tetapi tujuh daerah lainnya masih memerlukan perhatian, termasuk Aceh Tamiang dan Aceh Utara.
PENTINGNYA DUKUNGAN ANGGARAN UNTUK PEMULIHAN
Tito menekankan signifikansi dukungan anggaran yang memadai untuk mempercepat pemulihan daerah yang dilanda bencana. Dengan adanya dukungan dana dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, proses rehabilitasi dan rekonstruksi bisa lebih cepat dan efisien.
Pemerintah daerah perlu untuk menjaga alokasi anggaran, termasuk Tambahan Kinerja Daerah (TKD), agar bisa menangani masalah residu yang mungkin muncul pascabencana. Penambahan dana ini sangat penting untuk memastikan pemulihan berjalan lancar.
“Jika perlu, tambah anggaran untuk daerah yang terdampak,” ujar Tito. Langkah ini diharapkan dapat mengantisipasi berbagai kebutuhan yang muncul dalam proses pemulihan.
INDIKATOR KEMBANGAN PEMULIHAN WILAYAH TERDAMPAR
Indikator pemulihan wilayah meliputi berbagai aspek, seperti fungsionalitas pemerintahan, fasilitas kesehatan, dan aktivitas pembelajaran. Tito menekankan pentingnya akses darat yang tetap operasional, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Kemampuan pemulihan ekonomi juga menjadi fokus perhatian, di mana fasilitas seperti SPBU dan PDAM harus tersedia untuk mendukung aktivitas warga. Pemenuhan ini penting karena berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang terdampak.
Dalam laporan resmi, Tito menjelaskan bahwa kondisi fasilitas-fasilitas tersebut akan menjadi ukuran penting dalam menilai efektivitas upaya pemulihan. Sementara itu, kemampuan masyarakat untuk kembali beraktivitas sangat bergantung pada keberfungsian fasilitas tersebut.



