Tumpukan sampah yang menutupi aliran Sungai Cibanten di Kota Serang menjadi sorotan saat relawan dari Komunitas Peduli Sungai Banten (KPSB) melaksanakan aksi bersih-bersih. Sungai yang memiliki nilai sejarah penting ini kini terancam oleh berbagai jenis sampah, mulai dari plastik, pakaian, hingga styrofoam yang mengotori alirannya.
Dalam kegiatan bersih-bersih yang berlangsung pada akhir pekan lalu, relawan menemukan berbagai jenis sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan. Ketua KPSB, Lulu Jamaludin, menegaskan bahwa masalah ini telah menjadi isu serius yang mengancam kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Pada hari-H kegiatan, mereka juga melihat langsung perilaku sebagian warga yang masih membuang sampah ke sungai dan lahan kosong. “Tindakan ini jelas mengancam ekosistem sungai,” ungkap Lulu, menunjukkan keprihatinan para relawan.
Urgensi Kebersihan Sungai dan Lingkungan di Serang
Kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang seharusnya disadari oleh semua kalangan. Sungai Cibanten, yang dulunya merupakan urat nadi transportasi dan perdagangan saat Kesultanan Banten, kini terancam oleh sampah yang semakin menumpuk di sepanjang aliran sungai.
Dengan kondisi sungai yang semakin mengkhawatirkan, air yang mengalir pun menjadi berwarna hitam akibat pencemaran. Mengingat sejarah panjangnya, relawan mendesak Pemerintah Kota Serang untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan.
“Kami berharap ada penegakan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah,” ujar Lulu dengan harapan agar hukum dapat ditegakkan dengan kuat. Hal ini penting agar masyarakat menyadari dampak buruk dari perilaku mereka terhadap lingkungan.
Rekomendasi Solusi untuk Mengatasi Masalah Sampah
Relawan KPSB memberikan beberapa rekomendasi untuk mengatasi masalah sampah ini. Salah satunya adalah dengan meningkatkan pengawasan di lokasi-lokasi rawan yang sering dijadikan tempat pembuangan sampah, lewat pemasangan kamera pengawas.
Selain itu, mereka juga merekomendasikan agar pelanggar diberikan sanksi sosial yang bersifat edukatif. Sanksi seperti kerja bakti membersihkan area yang tercemar bisa menjadi pembelajaran bagi mereka agar lebih bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.
Pemerintah juga diharapkan untuk menyediakan lebih banyak titik pembuangan sampah yang memadai. Ini akan memudahkan warga untuk membuang sampah di tempat yang tepat, serta mengurangi angka pelanggaran yang terjadi.
Pentingnya Edukasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Pendidikan kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah sangat penting dalam menciptakan kebiasaan baik. Konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) harus dipromosikan secara aktif oleh pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat.
Diharapkan, dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam membuang sampah. Lulu menekankan bahwa kesadaran ini adalah kunci untuk menjaga sungai dan lingkungan tetap bersih serta sehat.
“Jika setiap individu memiliki rasa tanggung jawab terhadap kebersihan, kondisi sungai dan lingkungan kita akan terjaga dengan baik,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan kecil dari masyarakat dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan sekitar.



