Kepala Dinas Kehutanan Maluku, Haikal Baadila, menjelaskan bahwa kabut asap yang menutupi Kota Ambon saat ini disebabkan oleh asap kiriman dari wilayah lain, terutama Papua, Pulau Buru, dan Pulau Seram. Kebakaran hutan dan lahan di daerah-daerah tersebut berkontribusi signifikan terhadap permasalahan kabut asap yang kini dirasakan masyarakat Ambon.
Menurut Haikal, kondisi kebakaran hutan dan lahan di Pulau Ambon saat ini masih bisa dikendalikan dan belum mencapai kategori darurat. Namun, perhatian perlu diberikan, terutama terkait kualitas udara yang berdampak pada kesehatan masyarakat.
Beliau mengungkapkan, apabila kualitas udara memburuk hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, status darurat harus dipertimbangkan. Pemantauan yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Maluku juga berfokus pada pencegahan agar masalah karhutla tidak meluas di wilayah itu.
Asap Kiriman dan Pengaruhnya di Ambon
Berdasarkan penjelasan Haikal, kabut yang menyelimuti Ambon bukan berasal dari kebakaran di Pulau Ambon, melainkan dari luar wilayah tersebut. Kebakaran yang terjadi di Papua menjadi kontributor terbesar, sedangkan Pulau Buru dan Pulau Seram berperan lebih kecil.
Pemantauan kualitas udara menjadi hal yang penting agar dampak dari asap kiriman ini dapat diminimalkan. Kualitas udara yang terus dipantau dapat memberikan informasi penting kepada masyarakat tentang kondisi kesehatan di daerah tersebut.
Petugas melakukan pemantauan harian dengan menggunakan citra satelit untuk mendeteksi titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran. Ini adalah langkah proaktif yang dilakukan untuk mencegah kebakaran semakin meluas.
Upaya Pencegahan dan Koordinasi yang Diperlukan
Dinas Kehutanan Maluku berkolaborasi dengan berbagai instansi untuk meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dengan sosialisasi kepada masyarakat di 11 kabupaten/kota, diharapkan mereka lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.
Patroli di area yang berpotensi tinggi terjadi kebakaran juga merupakan langkah strategis. Daerah seperti Kabupaten Buru dan Seram Bagian Timur menjadi fokus perhatian dalam pemantauan dan tindakan preventif.
Haikal juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya pembakaran lahan tanpa izin. Tak jarang, tindakan semacam ini menyebabkan kebakaran yang dapat meluas dan merugikan banyak pihak.
Tantangan Geografis dalam Penanganan Karhutla
Kondisi geografis Maluku yang merupakan gugusan pulau membuat penanganan kebakaran hutan menjadi lebih kompleks. Mobilisasi sumber daya manusia dan peralatan ke lokasi kebakaran seringkali terhambat oleh lokasi yang sulit dijangkau.
Haikal menyatakan, tantangan tersebut memaksa pihaknya untuk lebih kreatif dalam merumuskan strategi pencegahan. Satu langkah signifikan adalah membangun kesadaran di kalangan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
Melalui koordinasi yang intensif dengan pemerintah daerah, Dinas Kehutanan bertujuan untuk memastikan agar setiap titik panas yang terdeteksi segera direspons. Tindakan cepat sangat penting untuk menghindari kebakaran yang lebih meluas yang dapat merusak ekosistem di sekitar.



