Dalam upaya mengatasi masalah kemacetan yang semakin parah di ibu kota, proyek Flyover Latumenten menjadi sorotan utama. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, mengungkapkan keyakinannya bahwa proyek ini bisa mengurangi kemacetan hingga 40 persen di wilayah Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Kenneth bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau progres pembangunan flyover pada tanggal 2 Juli. Kenneth optimis bahwa proyek ini akan selesai tepat waktu pada Desember 2026.
“Progres Flyover Latumenten saat ini masih on the track, kami berharap semua dapat berjalan sesuai rencana,” imbuh Kenneth.
Pembangunan Flyover Latumenten berawal dari keluhan warga setempat yang resah akibat kemacetan dekat perlintasan kereta api. Menyikapi keluhan tersebut, Kenneth pun diminta mencari solusi untuk meredakan kemacetan yang sudah berlangsung lama.
Selama reses pada tahun 2024, Kenneth menerima permohonan dari warga untuk membangun flyover di lokasi tersebut. Ia mencatat pentingnya proyek ini sebagai langkah konkret untuk memberikan solusi bagi permasalahan lalu lintas yang terus berulang.
Proses Awal Pembangunan Flyover dan Kajian yang Dilakukan
Awalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memiliki anggaran khusus untuk melakukan pembangunan flyover. Oleh karena itu, Kenneth mengusulkan untuk melakukan kajian lebih lanjut untuk menganalisis permasalahan yang ada.
Kajian mengenai perlintasan kereta api dan dampaknya terhadap kemacetan pun dilaksanakan, dan setelah selesai, proyek tersebut masuk ke dalam proses lelang. Pembukaan lelang tersebut menandai langkah awal pembangunan yang diharapkan dapat segera terwujud.
“Melalui berbagai langkah yang diambil, semoga Flyover Latumenten bisa menjadi solusi yang nyata,” ujar Kenneth. Proyek ini diharapkan dapat membantu mengurai kemacetan yang selama ini menjadi momok di area tersebut.
Saat ini, proyek tersebut telah berjalan memasuki fase konstruksi dan sudah menunjukkan hasil yang signifikan. Kenneth sangat berharap semua pihak terlibat akan terus mendukung agar proyek ini dapat selesai tepat waktu.
Selain itu, konektivitas antara berbagai moda transportasi juga menjadi perhatian dalam pembangunan flyover ini. Rencana integrasi dengan KRL Commuter Line dan Transjakarta telah dipikirkan agar masyarakat dapat lebih mudah beralih moda transportasi.
Integrasi Flyover Dengan Moda Transportasi Modern
Flyover Latumenten tidak hanya akan menjadi jalur kendaraan, tetapi juga dirancang untuk terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum. Kenneth menjelaskan bahwa skywalk serta Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang ramah disabilitas akan dibangun untuk mendukung aksesibilitas nenek-nenek dan penyandang disabilitas.
Kehadiran lift pada JPO akan sangat mempermudah akses ke halte Transjakarta tanpa harus menggunakan tangga, sehingga semua lapisan masyarakat dapat lebih leluasa bergerak. Konsep ini adalah cerminan betapa pentingnya infrastruktur yang inklusif.
Pembangunan skywalk dan JPO ini menjadi salah satu inovasi yang diharapkan dapat mendukung keberhasilan proyek flyover. Hal ini bertujuan untuk menjadikan tempat tersebut lebih nyaman dan aman bagi semua pengguna jalan.
“Dengan adanya sistem yang terintegrasi, kita berharap layanan transportasi publik bisa lebih optimal sehingga banyak orang beralih dari kendaraan pribadi,” tambah Kenneth.
Proyek ini bukan hanya sekadar menambah jembatan. Melainkan menggandeng berbagai elemen untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih baik di Jakarta.
Pentingnya Proyek Flyover Latumenten untuk Kehidupan Masyarakat
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa proyek Flyover Latumenten menjadi salah satu prioritas utama untuk meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi di Jakarta. Pihaknya mengharapkan proyek ini dapat memberikan dampak positif terhadap kepadatan lalu lintas di kawasan Grogol, Pluit, dan sekitarnya.
“Kemacetan di daerah ini sangat tinggi, menjadikan proyek ini mendesak untuk dilaksanakan,” ungkap Pramono. Dia menambahkan bahwa flyover ini merupakan jawaban atas keluhan sehari-hari masyarakat terkait macet.
Pramono juga mengungkapkan bahwa progres pembangunan saat ini telah mencapai 55,2 persen dengan total anggaran sekitar Rp259 miliar. Ia berharap agar proyek ini dapat selesai sesuai rencana pada 15 Desember 2026 agar masyarakat dapat segera memanfaatkannya.
Panjang flyover yang mengarah ke Slipi adalah 435 meter dengan lebar 11 meter, memiliki kapasitas dua lajur kendaraan umum dan satu lajur busway. Sementara flyover yang mengarah ke Grogol juga memiliki panjang 420 meter dengan spesifikasi yang hampir sama.
Dengan semua langkah dan komitmen yang telah diambil, diharapkan Flyover Latumenten tidak hanya menjadi infrastruktur fisik semata, tetapi juga solusi permanen atas permasalahan transportasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun.



