Kasus penyekapan dan pemerkosaan yang terjadi di Makassar baru-baru ini menimbulkan keprihatinan masyarakat. Pelaku, bernama Feri Bin Dg Rumpa (33), melakukan tindakan keji ini terhadap seorang mahasiswi berusia 21 tahun berinisial MA, yang terjebak dalam janji kerja palsu.
Peristiwa tersebut mengungkapkan betapa rentannya perempuan dalam menghadapi bahaya di dunia maya, terutama ketika terlibat dalam pencarian pekerjaan. Korban awalnya tertipu dengan tawaran kerja sebagai baby sitter yang dijanjikan dengan imbalan yang menggiurkan.
“Pelaku mengancam korban dengan pisau cutter dan menutup mulut serta matanya dengan lakban,” ungkap Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana dalam konferensi pers. Ancaman ini membuat korban tidak berdaya dan terpaksa mengikuti kemauan pelaku.
Kronologi Kejadian yang Mengguncang
Kejadian ini bermula pada hari ketiga korban berada di rumah kontrakan pelaku, di mana dia segera disekap setelah datang berdasarkan tawaran pekerjaan yang diterima. Beragam bentuk kekerasan dialami korban, sehingga membuatnya benar-benar tidak bisa melawan.
Keterangan dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa selama disekap, korban mengalami beberapa kali pemerkosaan. Pelaku tidak saja mengancam dengan senjata tajam, tetapi juga memanfaatkan ketidaktahuan korban akan situasi yang sebenarnya.
Lokasi penyekapan terungkap berada di kompleks perumahan di Jalan Metro Tanjung Bunga, tempat pelaku menyewa rumah secara harian. Dari keterangan, pelaku membayar sekitar Rp 300 ribu per hari untuk menyewanya.
Modus Operandi Pelaku yang Mengkhawatirkan
Pelaku memanfaatkan platform media sosial untuk menawarkan pekerjaan palsu yang menarik bagi para pencari kerja, terutama mahasiswa yang sering mengalami kesulitan finansial. Dalam kasus ini, korban tertarik dengan iming-iming imbalan yang besar untuk pekerjaan yang seharusnya mudah.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa hingga saat ini, mereka masih belum menemukan indikasi adanya jaringan perdagangan manusia terkait dengan tindakan pelaku. “Modus yang digunakan adalah membujuk korban melalui iklan lowongan kerja yang tidak benar,” tambah Arya.
Selama kejadian tersebut, korban tidak punya kesempatan untuk melarikan diri atau meminta bantuan, hingga akhirnya, warga setempat berhasil mengetahui situasi tersebut dan membantu menyelamatkannya. Proses evakuasi dilakukan setelah penduduk mendengar suara minta tolong dari dalam rumah.
Respon Masyarakat terhadap Kasus Ini
Kasus ini memicu reaksi yang kuat dari masyarakat Makassar. Banyak yang menyuarakan keprihatinan mereka dan meminta tindakan tegas dari pihak berwenang terhadap pelaku. Selain itu, banyak pihak juga menyerukan peningkatan keselamatan bagi para pencari kerja, terutama perempuan.
Komunitas lokal dan organisasi perempuan pun mulai mengadakan diskusi untuk membahas perlunya edukasi mengenai bahaya penipuan online. Hal ini penting agar masyarakat lebih waspada dan tidak menjadi korban akibat ketidaktahuan.
Meski pelaku sudah tertangkap, diskusi mengenai keamanan dan perlindungan terhadap perempuan dalam konteks pekerjaan masih sangat relevan. Penting untuk melaksanakan program-program kesadaran yang mampu mencegah kejadian serupa di masa depan.



