Dua mahasiswa telah ditetapkan sebagai tersangka terkait insiden perusakan dan pembakaran Gedung Fakultas Pertanian di salah satu universitas terkemuka di Aceh. Dalam perkembangan terbaru, kedua tersangka, yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik universitas tersebut, berinisial WS (22) dan MAM (20), ditetapkan setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap 18 saksi yang ada.
Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, mengungkapkan bahwa kedua mahasiswa ini diduga terlibat langsung dalam rangkaian aksi penyerangan yang menyebabkan kerusakan parah pada gedung Fakultas Pertanian. Kejadian ini memicu perhatian publik dan menimbulkan kekhawatiran akan keadaan keamanan di lingkungan kampus.
Dizha menjelaskan bahwa pihak kepolisian telah menemukan berbagai bukti yang mendukung kasus ini, termasuk kendaraan yang rusak dan peralatan yang digunakan dalam aksi tersebut. Rangkaian penyidikan ini mengindikasikan adanya konflik yang lebih dalam di antara mahasiswa di kampus tersebut.
Peristiwa Pengrusakan yang Memicu Ketegangan Antar Pelajar
Insiden pengrusakan ini bukanlah kejadian yang terisolasi, melainkan hasil dari ketegangan yang telah berlangsung antara mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik. Menurut keterangan saksi, ketegangan ini meningkat setelah adanya demonstrasi yang melibatkan kedua fakultas tersebut.
Pada 18 Mei 2026, situasi semakin memanas ketika mahasiswa Fakultas Pertanian yang beraksi menuju Kantor Gubernur Aceh melintas di depan Fakultas Teknik. Saat itu, siswa-siswa dari Fakultas Teknik merasa provokasi, yang mengakibatkan insiden keributan di antara mereka.
Keributan yang terjadi juga menyebabkan seorang mahasiswa Fakultas Teknik luka-luka dan memerlukan perawatan medis. Meskipun manajemen kampus berusaha melakukan mediasi agar ketegangan ini mereda, konflik masih berlanjut dan semakin memburuk.
Aksi Balasan yang Berujung pada Kerusakan
Konflik memuncak pada malam tanggal 21 Mei, ketika sekelompok mahasiswa Fakultas Pertanian diduga menyerang Fakultas Teknik, menimbulkan kerusakan yang cukup serius. Kejadian ini berangsur-angsur menarik perhatian yang lebih besar dari aparat penegak hukum.
Beberapa saat setelah serangan tersebut, mahasiswa Fakultas Teknik melakukan aksi balasan dengan melemparkan batu dan bom molotov ke arah Fakultas Pertanian. Dalam serangan ini, banyak fasilitas bangunan dan laboratorium yang menjadi korban.
Aksi ini menciptakan situasi yang menegangkan di lingkungan kampus, dan menyebabkan kepanikan di kalangan mahasiswa dan staf pengajar. Keterlibatan aparat kepolisian kemudian menjadi keharusan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di area kampus.
Penyidikan Melanjutkan Pencarian Keadilan
Pihak kepolisian melanjutkan proses penyidikan terhadap kedua tersangka yang telah ditetapkan. Selain melakukan pemeriksaan terhadap saksi, mereka juga telah mengumpulkan berbagai barang bukti, termasuk kendaraan yang digunakan dan peralatan yang ditemukan di lokasi kejadian.
Dizha menegaskan bahwa mereka akan terus memeriksa saksi-saksi tambahan untuk mendalami lebih jauh kronologi kejadian tersebut. Pengacara dari kedua tersangka menyatakan bahwa mereka siap memberikan pembelaan dan mendukung proses hukum yang transparan.
Proses penyidikan diharapkan dapat memberikan kejelasan dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat, serta mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Kejadian ini menyiratkan pentingnya pengelolaan konflik yang efektif di lingkungan pendidikan untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi belajar.


