Pemerintah Kota Makassar tengah mengintensifkan kerjasama dengan komunitas lokal dan sektor swasta untuk meningkatkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan melalui program pengolahan sampah plastik yang bernilai ekonomi. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah langkah konkret untuk menjadikan Makassar kota yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Dalam acara Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan yang diadakan di Kantor Lurah Panampu, Munafri mengungkapkan rasa bangganya karena inisiatif ini bukan sekedar seremonial. Ia menilai bahwa kolaborasi antara Komunitas Berdaya Nusantara dan RAPPO Indonesia memiliki potensi besar dalam menerapkan solusi nyata terhadap tantangan pengelolaan sampah di kota tersebut.
Munafri, yang akrab disapa Appi, berharap inisiatif ini dapat menjadi motor penggerak untuk pemberdayaan perempuan dalam pembangunan kota. Dengan memberikan akses kepada perempuan untuk keterampilan dan ruang kreatif, pemerintah berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.
Inisiatif Pemberdayaan Perempuan Melalui Pengelolaan Sampah
Pemerintah Kota Makassar percaya bahwa perempuan harus memiliki peran yang aktif dalam pembangunan. Melalui program pengolahan sampah ini, perempuan dapat mengubah limbah plastik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi produk fesyen yang ramah lingkungan. Ini adalah bentuk nyata dari upaya memberdayakan komunitas dan mengejar kemandirian ekonomi sekaligus.
Munafri menekankan bahwa inovasi sangat penting dalam menangani persoalan sampah plastik yang kini menjadi tantangan global. Diharapkan, melalui kreativitas perempuan, limbah yang ada dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual di pasaran.
Menurutnya, kolaborasi dengan sektor swasta adalah kunci untuk menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah. Ia menegaskan bahwa hanya dengan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, solusi optimal dapat dicapai.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi dari Program Terintegrasi
Pemerintah Kota Makassar memproduksi sekitar 800 ton sampah setiap hari, tetapi kapasitas pengangkutan baru mencapai 67 persen. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat meningkatkan pengolahan sampah dan menekan jumlah limbah yang tidak terkelola. Selain itu, upaya ini juga bertujuan untuk mengubah sistem tempat pembuangan akhir menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.
Munafri menyampaikan bahwa saat ini TPA di Makassar masih menggunakan sistem open dumping, yang harus segera diubah setelah arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Ke depannya, diharapkan limbah yang masuk ke TPA adalah residu dari proses pengolahan, bukan sampah rumah tangga langsung.
Proyek pembangunan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) juga tengah dipersiapkan di wilayah Panampu untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selain itu, pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun direncanakan untuk mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari.
Keterlibatan Komunitas dalam Pengelolaan Sampah
Di tengah berbagai inisiatif ini, keterlibatan komunitas sangat penting. Lokasi pengolahan sampah seperti Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara menjadi pusat pengumpulan untuk mendorong masyarakat memilah sampah dari rumah. Proses ini memberi dampak sosial yang signifikan, karena perempuan dari komunitas terlibat dalam pembersihan dan pencacahan sampah plastik.
Hasil dari proses pengolahan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memberikan kesempatan ekonomi. Produk daur ulang kini mulai dijual di berbagai pasar, termasuk di Makassar, Jakarta, dan Bali, menunjukkan bahwa komunitas dapat mengubah limbah menjadi solusi.
Munafri juga mengungkapkan bahwa kolaborasi ini membawa harapan bagi masa depan, di mana setiap langkah kecil akan berdampak besar terhadap perubahan sosial dan lingkungan. Dengan adanya dukungan yang kuat dari berbagai pihak, Makassar berpotensi menjadi kota yang bersih dan berkelanjutan.



